8 Golongan Orang yang Berhak Menerima Zakat

asnafOrang yang berhak menerima zakat disebut mustahiq al-zakah, yang sering disingkat dengan mustahiq saja atau ashnaf. Dalam surah at-Taubah ayat 60 disebutkan ada delapan golongan orang-orang yang berhak menerima zakat, yaitu sebagai berikut.

Fuqara, merupakan bentuk jamak dari faqir, yang artinya orang-orang yang membutuhkan. Mereka adalah orang-orang yang sangat menghajatkan bantuan orang lain untuk kelangsungan hidup sehari-hari karena tidak memiliki pekerjaan atau mata pencaharian layak yang dapat mencukupi kebutuhan diri dan keluarga mereka. Akan tetapi, demi menjaga harga diri, mereka tidak mau meminta-minta kepada orang lain.

Masakin, artinya ‘orang-orang miskin’. Arti asal miskin adalah diam, tapi kemudian juga berarti orang yang patut dikasihani. Berbeda dengan faqir, orang miskin tidak malu-malu untuk mengemis kepada orang lain.

Amilin, adalah orang-orang yang mengurus pelaksanaan zakat. Mereka adalah orang-orang yang diamanati untuk mengumpulkan, menjaga, mengatur penyimpanan, serta membagikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Amilin tidak harus faqir miskin, tetapi juga orang kaya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw . bersabda: “Shadaqah (zakat) itu tidak halal untuk orang kaya, kecuali untuk lima golongan: orang yang berperang di jalan Allah; orang yang mengurus (pelaksanaan) zakat; orang yang berutang; orang yang membeli barang zakat itu dengan uangnya sendiri; seseorang yang memiliki tetangga miskin kemudian ia bersedekah kepada si miskin, lantas si miskin tersebut menghadiahkannya kepada orang kaya.” (Hadits Riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Muallafah Qulubuhum, artinya ‘orang-orang yang hatinya dapat ditaklukkan dan dikukuhkan kepada Islam. Istilah muallafah qulubuhum sering disingkat dengan sebutan muallaf saja. Termasuk dalam golongan ini adalah orang yang baru masuk Islam, orang yang belum masuk Islam tapi hatinya dihidupkan terhadap nilai-nilai Islam, dan orang yang sudah mengenal Islam, namun masih enggan melaksanakan ajaran Islam.

Riqab, Bentuk jamak kata ini adalah raqabah. Arti asalnya adalah ‘leher’. Dalam Al Quran , budak atau hamba sahaya disebut riqab atau raqabah (QS an-Nisa: 92; at-Taubah: 60; al-Mujadilah: 3; al-Balad: 13). Kata ini merupakan kiasan, yakni seolah-olah leher mereka diikat dengan tali sehingga tidak dapat bebas bergerak. Adapun yang dimaksud dalam surah at-Taubah ayat 60 adalah hamba sahaya yang hendak menebus kemerdekaannya. Oleh karena itu, zakat tersebut tidak diberikan kepada si hamba sahaya, tetapi kepada majikan yang memilikinya.

Gharimin, artinya ‘orang-orang yang berutang’. Adapun yang dimaksud gharimin adalah orang-orang yang memiliki utang dan tidak mampu membayarnya. Selain itu, termasuk dalam kelompok gharimin adalah orang-orang yang meninggal dunia dan masih memiliki utang, sedangkan harta peninggalan mereka tidak mencukupi untuk membayar utang tersebut.

Fi Sabilillah, artinya ‘di jalan Allah’. Pada mulanya, pembagian zakat ditujukan kepada orang-orang yang berperang membela agama Allah . Akan tetapi, arti fi sabilillah lebih luas dari sekadar berperang. Oleh karena itu, saat ini, jalan atau sarana apapun yang dipergunakan untuk menegakkan agama Allah disebut fi sabilillah.

Ibnu Sabil, artinya ‘anak jalan’. Kata ini merupakan kiasan bagi musafir, yakni orang-orang yang dalam perjalanan atau orang-orang yang bepergian bukan untuk tujuan maksiat. Pergi menyusuri bumi Allah sangat dianjurkan dalam Islam, dengan niat untuk memperhatikan ayat-ayat Allah, mencari rezeki, beribadah haji, dan sebagainya. Oleh karena itu, jika kehabisan bekal, mereka berhak menerima zakat. (RSB-1115)

(Visited 496 times, 1 visits today)