Zakat dan Penanggulangan Musibah

Pada mulanya, manusia diciptakan Allah SWT untuk berbahagia selamanya. Akan tetapi setelah Nabi Adam AS diturunkan dari surga, dan bumi dijadikan sebagai tempat tinggal sementara manusia sejak itu, manusia ditetapkan Allah sebagai makhluk yang harus selalu diuji dan diberi cobaan. Karena hakekat dunia adalah tempat cobaan, ujian dan musibah. Allah menegaskan; “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,(QS Al Baqarah 155).

Kalau ada kesenangan di dunia ini maka bukan kesenangan hakiki tapi kesenangan semu yang penuh dengan tipuan. Allah berfirman: Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.( QS Al Hadid 20)

Ujian dan dan cobaan ini bisa diberikan Allah melalui kebaikan seperti harta yang melimpah atapun dengan keburukan seperti musibah kebanjiran. “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan (QS Al Anbiya’ 35). Dengan berbagai ujian tersebut, manusia mukmin diharuskan untuk selalu sabar menghadapi semua ujian tersebut. Allah berfirman dalam surat Lukman ayat 17 yang artinya : “dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Dengan kesabaran itulah manusia akan mendapatkan pahala yang sangat banyak bahkan bisa tanpa batas. “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Q.S. Az Zumar 10), sehingga bisa kembali ke surga jannatun na’iim.
Saat datangnya ujian dan musibah ini, setiap manusia tidak sama dalam menghadapinya. Ada yang sabar dan ada yang tidak bahkan tidak sedikit yang bertambah ingkar dan kufur ni’mat.

Demi mewujudkan kebahagiaan dan kebersamaan umat manusia, Islam mengatur kehidupan secara detail dalam tiga aspek utama; aspek hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan masyarakat dan hubungan seorang manusia dengan dirinya sendiri.

Berkaitan dengan hubungan sosial, Allah mengikat hubungan ini dengan perintah merealisasikan ukhuwwah, kecintaan, kasih sayang, saling menghormati, tolong menolong, saling mempersatukan, saling solidaritas bahkan sampai kepada tingkat itsar (mendahulukan orang lain) dalam masalah keduniaan sehingga tercipta suasana tolong menolong dan dan bahkan sampai ke tingkat saling menanggung atau solidaritas.

Kepedulian sosial dalam Islam bukan sekedar slogan tapi dijadikan sebagai dasar keimanan. Mengulurkan sedekah kepada orang miskin as-saa il (yang berani meminta) dan miskin al mahruum (yang tidak berani meminta) merupakan ciri mukmin ahli sorga (lihat QS Ali Imran 133-134, QS Adzdzariyat 19,dll) dan berinfak adalah ciri muttaqin (QS Al Baqarah 3). Rasulullah menegaskan dalam haditsnya: Assodaqatu burhaanun , sedekah itu adalah bukti nyata keimanan seseorang.
Islam sebagai agama persatuan dan ukhuwwah, mensyariatkan segala hal yang bisa menjaga kehidupan bersama dan melanggengkan kasih sayang antar mereka dan mewujudkan solidaritas sosial. Islam mensyariatkan minimal empat hal pokok untuk mewujudkan solidaritas sosial ini; yaitu: memberi nafkah, membayar kifarat, menunaikan zakat, dan memberi sedekah.

Pertama, nafkah adalah segala sesuatu yang wajib diberikan oleh seseorang kepada kerabat berupa pangan, sandang dan papan. Kerabat yang wajib dinafkahi ini mencakup; istri, anak dan kedua orang tua. Satu keluarga besar harus saling menolong. Si kuat menolong si lemah dan si kaya menanggung si miskin, yang selamat dan dalam keadaan aman sentausa harus menolong yang tertimpa mushibah.

Kedua, kifarat, yaitu sedekah berupa harta yang wajib diberikan untuk menutupi dosa atau pelanggaran yang dilakukan seseorang, seperti: kifarat yamin karena melanggar sumpah. Kifarat dzihar, kifarat karena berbuka puasa tanpa udzur, kifarat karena meninggalkan wajib haji yang disebut dengan dam.

Ketiga, kepedulian kepada kaum dhu’afa secara umum. Hal ini bisa dilakukan dengan mengeluarkan zakat. Zakat merupakan sumber solidaritas sosial paling penting dalam mengikat hubungan baik antarmanusia. Namun zakat ini hanya diberikan kepada delapan kelompok mustahiq yaitu: fakir, miskin, amil, muallaf, riqab ( budak yang ingin merdeka), ghorim (orang yang berhutang karena berjuang di jalan Allah), sabilillah dan ibnu sabil (Lih QS at-taubah 60). Zakat ini merupakan solusi realistis untuk menghapus kemiskinan, dan mengikis kebakhilan dan kekikiran.

Keempat, pemberian sedekah kepada fakir atau miskin yang membutuhkan. Ada dua macam sedekah; 1. yang wajib seperti zakat harta, zakat profesi, zakat fitrah dsb. 2. sedekah sunnah seperti pemberian sedekah kepada orang lain yang dikehendakinya, kapan saja dan di mana saja sebagai bentuk kebajikan umum. Di antara bentuk sedekah menyembelih akikah, menyembelih kurban dan sedekah sunnah yang dipilihnya guna membesihkan dirinya dari dosa-dosanya. Rasulullah bersabda: sedekah itu memadamkan dosa seperti air memadamkan api. (HR Abu Daud).

Saat saudara-saudara kita banyak yang tertimpa musibah banjir, longsor atau musibah-musibah lainnya serta ribuan rumah terendam baik di Bandung, di Lampung atau di kota-kota lainnya, kita semua dituntut untuk mengulurkan bantuan semampu kita sebagai bentuk kepeduliana sosial, solidaritas dan realisasi keimanan kita. Minimal bantuan yang wajib kita keluarkan dari harta kita yaitu berupa zakat. BAZNAS sebagai lembaga pemerintah non struktural yang dikelola secara profesional dan transparan, selalu siap meringankan beban para muzakki untuk menyalurkan zakat kepada suadara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah. Wallahu a’lam vis showab. (Ahmad Satori)
Sumber gambar : google.com

(Visited 82 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.