Sekali lagi Zakat Profesi !

ZFZAKAT profesi, memiliki ketentuan terkait nishab, kadar zakat dan waktu mengeluarkannya.  Beberapa ulama kontemporer berpendapat bahwa nishab dan waktu mengeluarkan zakat profesi diqiyaskan dengan zakat pertanian, yaitudikeluarkan setiap bulan senilai 653 Kg beras, sedangkan kadar zakat dianalogikan dengan zakat emas dan perak yaitu 2,5%.

Dengan analogi yang unik tersebut, maka nishab zakat profesi adalah senilai 653 Kg beras dan dikeluarkan setiap bulan (saat mendapatkan penghasilan) sebesar 2,5%. Pendapat inilah yang menjadi pilihan banyak lembaga-lembaga zakat di tanah air.

Dari aspek nishab, diqiyaskan dengan zakat pertanian karena ada kemiripan (syabah) antara zakat profesi dengan zakat pertanian, yaitu baik petani ataupun tenaga profesional itu mengeluarkan zakatnya setiap kali panen/mendapatkan upah.

Sebaliknya jika dianalogikan dengan emas, maka kurang berpihak kepada mustahik karena tingginya nishab akan semakin mengurangi jumlah hartawan wajib zakat. Pada saat yang sama membuka kesempatan kepada hartawan untuk membiasakan diri berzakat dan membersihkan harta dan diri mereka.

Dari aspek kadar zakat, diqiyaskan dengan zakat emas dan perak yaitu 2,5%, karena Jenis dan sifat yang dizakatkan lebih mirip dengan emas dan perak dimana keduanya termasuk harta (karena penghasilan keduanya  berupa uang). Dan jika dianalogikan dengan zakat pertanian itu akan memberatkan muzaki karena tarifnya adalah 5%.

Sedangkan dari aspek waktu mengeluarkan zakat profesi, itu dikeluarkan setiap mendapatkan penghasilan karena empat hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Ali ra, Ibnu Umar ra, Anas ra dan Aisyah ra yang menegaskan kewajiban haul untuk seluruh harta wajib zakat.

Tetapi menurut ulama hadits, keempat hadits tersebut itu dhaif dan tidak bisa menjadi sandaran hukum. Begitu pula beberapa hadits yang menegaskan kewajiban haul  dalam mal mustafad (zakat profesi) itu juga haditsnya dhaif.

Oleh karena itu, para shahabat, tabi’in dan ulama Hanafiah, Malikiah, Syafi’iyah dan Hanabilah berbeda pendapat tentang syarat haul dalam zakat profesi, sebagian mensyaratkan haul dan sebagian yang lain tidak mensyaratkan haul.

Pendapat yang kuat (rajih) adalah zakat profesi wajib ditunaikan setiap kali mendapatkan gaji/upah (tanpa menunggu haul) karena tidak ada nash yang shahih atau hasan dan tidak ada ijma’ ulama yang mewajibkan haul dalam mal mustafad,  maka kembali kepada nash-nash yang umum.

Pendapat yang tidak mewajibkan haul lebih dekat dengan maqashid syariah, yaitu semangat berbagi dan nilai sosial (muwasah) dan lebih bermanfaat bagi fakir miskin dan mudah ditunaikan.Dan sebaliknya mensyaratkan haul akan membiarkan para hartawan tenaga profesional tanpa kewajiban zakat kepada dhuafa.

Juga pendapat ini lebih adil, karena petani dengan penghasilan tertentu (nishab) itu diwajibkan zakat, maka seorang  tenaga profesional dengan penghasilan jauh lebih besar dari petani itu seharusnya lebih diwajibkan.

Oleh sebab itu, pendapat ini adalah pendapat pertengahan yang memperhatikan mashlahat muzaki dan mustahiq.

 

DR Oni Sahroni, MA

(Visited 61 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.