Zakat Profesi atau Zakat Penghasilan Apakah Sesuai Syariat?

Bismillahirrahmanirrahim. Seperti yang mungkin telah kita ketahui sebelumnya bahwa sampai dengan saat ini, terdapat perbedaan pendapat tentang ketentuan zakat profesi. LAZ Al-Hakim SUCOFINDO sendiri pada dasarnya memfasilitasi perbedaan tersebut, sehingga diharapkan dapat mempermudah muzakki dalam menyampaikan amanah dan kewajibannya dalam menunaikan zakat.

Zakat Profesi

Zakat profesi memiliki ketentuan terkait nisab, kadar zakat, dan waktu mengeluarkannya. Terdapat empat pendapat utama terkait ketentuan zakat profesi, diantaranya sebagai berikut :

  1. Ketentuan hukum zakat profesi di-qiyas-kan (dipersamakan) secara mutlak dengan zakat pertanian dalam nisab, waktu, dan kadar zakatnya karena pendapatan keduanya didapatkan saat gajian (bisa rutin atau tidak rutin) bukan tahunan. Maka, nisab zakat profesi adalah 653 kg beras dan dikeluarkan setiap kali menerima (menerima gaji/upah) sebesar 5%;
  2. Ketentuan hukum zakat profesi di-qiyas-kan secara mutlak dengan zakat emas dan perak dalam nisab, waktu, dan kadar zakatnya. Maka, nisab zakat profesi adalah 85 gram emas dan dikeluarkan setiap menerima gaji, kemudian penghitungannya diakumulasikan atau dibayar di akhir tahun sebesar 2,5%.
  3. Ketentuan hukum zakat profesi di-qiyas-kan secara mutlak dengan zakat emas dan perak dalam nisab dan kadar zakatnya. Maka, nisab zakat profesi adalah 85 gram emas sebesar 2,5%. Akan tetapi, waktu pengeluaran zakat dapat dikeluarkan pada saat menerima jika sudah cukup nisab. Apabila tidak mencapai nisab, maka semua penghasilan dikumpulkan selama satu tahun, kemudian zakat dikeluarkan apabila penghasilan bersihnya sudah cukup nisab (*Fatwa MUI tentang zakat penghasilan).
  4. Ketentuan hukum zakat profesi di-qiyas-kan dengan zakat pertanian, yaitu dikeluarkan setiap bulan senilai 653 kg beras, sedangkan kadar zakat dianalogikan dengan zakat emas dan perak, yaitu 2,5%. Dengan analogi ini, maka nisab zakat profesi adalah senilai 653 kg beras dan dikeluarkan setiap bulan (saat mendapatkan penghasilan). Pendapat ini yang banyak diadopsi oleh ulama kontemporer dan mayoritas lembaga zakat nasional.

MUI

Kutipan Fatwa MUI No. 3 Tahun 2003 tentang Zakat Penghasilan :

Pertama : Ketentuan Umum. Dalam Fatwa ini, yang dimaksud dengan “penghasilan” adalah setiap pendapatan seperti gaji, honorarium, upah, jasa, dan lain-lain yang diperoleh dengan cara halal, baik rutin seperti pejabat negara, pegawai atau karyawan, maupun tidak rutin seperti dokter, pengacara, konsultan, dan sejenisnya, serta pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan bebas lainnya.

Kedua : Hukum. Semua bentuk penghasilan halal wajib dikeluarkan zakatnya dengan syarat telah mencapai nishab dalam satu tahun, yakni senilai emas 85 gram.

Ketiga : Waktu Pengeluaran Zakat. 1. Zakat penghasilan dapat dikeluarkan pada saat menerima jika sudah cukup nishab. 2. Jika tidak mencapai nishab, maka semua penghasilan dikumpulkan selama satu tahun; kemudian zakat dikeluarkan jika penghasilan bersihnya sudah cukup nishab.

Keempat : Kadar Zakat. Kadar zakat penghasilan adalah 2,5%.

*Haul zakat dapat diartikan batas waktu dalam satu tahun hijriah dimana harta harus dikeluarkan zakatnya. (WAKTU)

*Nisab zakat dapat diartikan jumlah batasan kepemilikan harta seorang Muslim untuk wajib mengeluarkan zakat. (KUANTITAS)

 

Memang perlu kita maklumi bahwa di dalam tubuh umat ini memang ada khilaf dalam cara pandang terhadap masalah zakat, sehingga ada yang mendukung zakat profesi di satu pihak karena lebih logis dan sesuai dengan keadaan saat ini dan di pihak lain menentangnya karena dianggap tidak ada tuntunannya.

Walau ada perbedaan, satu benang merah dari perbedaan pendapat di atas adalah bahwa kewajiban membayar zakat atas penghasilan yang diterima adalah wajib hukumnya. Namun perbedaan pendapat umumnya berupa penetapan nisab dan juga haul dari kewajiban menunaikan zakat profesi tersebut. Wallahu a’lam bishawab.

 

 

(Visited 52 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.