Seminar Parenting ‘Mendidik Anak di Era Digital’ (Elly Risman)

Tanpa kita sadari ternyata, anak-anak mendapat banyak pengaruh dari barang-barnag yang kita fasilitasi seperti handphone, ipad, tablet, computer/laptop berikut internetnya, juga TV, DVD, games, hingga komik. Iya. Jangan salah lho, komik, film kartun hingga games keluaran abad 21 ini. Banyak mengandung unsur pornografi. Kalau kita merasa, ‘tidak kok, tidak, saya tidak pernah belikan anak saya komik, DVD dan games’.

Tapi kan, kita kasih uang jajan juga kan ke anak kita? Apakah jumlahnya berlebih? Sehingga anak kita bisa dengan bebas beli dan mengkonsumsi apa saja.

Sumber paling berbahaya barangkali internet. Internet itu seperti toko serba ada. Kita cari apa saja tinggal ketik di Google search, muncul deh beraneka informasi, tinggal klik, dapat. Mau gambar, video di youtube, informasi apaaa saja ada.

Lalu, selama ini saya hanya dengar, ooohh, katanya komik dan games sekarang banyak yang porno lho. Tapi saya belum pernah lihat sendiri. Jadi saya pikir, ah, paling parah paling-paling gambar sepasang muda mudi ciuman. O o… ternyata jaauhh lebih parah dari dugaan saya.

Ternyata banyak sekali, komik-komik Jepang yang menggambarkan adegan tidak senonoh. Persis sekali dengan banyak kasus pornografi yang banyak terjadi di Indonesia. Dari gambar adegan bercinta pasangan muda mudi, hingga pasangan sejenis, hingga melakukannya beramai-ramai, hingga antara orang dengan kuda.

Bagaimana dengan games? Sama saja parahnya. Atau bahkan mungkin lebih parah, karena gambarnya bergerak. Apalagi games jaman sekarang gambarnya lebih nyata. Pemain bisa memilih karakter apa saja yang tidak ada di dunia nyata. Ini seperti memfasilitasi si pemain untuk merealisasikan imajinasi liar yang ada dikepalanya ke dalam bentuk visual. Hati-hati juga dengan kemasan. Bisa jadi pada covernya yang terlihat seperti games racing/balapan motor/mobil biasa. Tapi tunggu hingga pemain menyelesaikan balapannya. Ada lho games yang hadiahnya pada akhir permainan, yaitu bercinta dengan pelacur jalanan.

Ibu-ibu yang suka nonton sinetron, harap waspada. Banyak dari sinetron-sinetron yang tayang di TV adalah sinetron tidak bermutu dan merusak moral dan otak anak-anak kita, ada adegan seorang remaja putri SMA dibully oleh teman-teman sekelasnya dengan disuruh buka baju di dalam kelas. Di cuplikan lain, seorang remaja putri SMA merayu gurunya dengan duduk di pegangan tangan kursi di ruang guru, sementara gurunya duduk di kursi tersebut. Dicuplikan lainnya lagi lebih parah, menggambarkan seorang remaja putra yang tidak dapat mengendalikan pikirannya akibat menonton blue film. Efeknya, perempuan yang berpakaian dan bertingkah laku biasa pun dalam pandangannya dan benaknya menjadi berpakaian dan bertingkah laku menggoda.

Dan saya tidak habis pikir bagaimana mungkin pihak TV menayangkan sinetron-sinetron remaja tersebut pada prime time, atau di waktu-waktu anak-anak, remaja-remaja belum pada tidur??

Maka tidak heran kalau beberapa tahun setelahnya kita baca berita mengenai video mesum anak SMP di dalam kelas bersama teman-temannya. Jangan kaget kalau ada berita hubungan guru dengan murid. Yang bisa jadi si pelaku malah terinspirasi dari tontonan di sinetron-sinetron tersebut.

Oh ya, jangan lupa kalau anaknya senang nonton MTV, banyak video klip dalam dan luar negeri juga yang menampilkan gaya berpakaian dan tingkah laku tidak senonoh lho. Begitu pula dengan iklan. Belum lagi tayangan tidak bermutu semacam YKS berikut goyang Cesar-nya (dulu), panggung music macam Dahsyat, dll, yang becandaannya sama sekali tidak bermutu, obrolannnya tidak bermanfaat. Malah penuh ejekan, pelecehan. Tingkah laku presenternya yang sangat tidak patut ditiru.

Belum lagi acara infotainment yang menampilkan selebriti dengan gaya dan tingkah lakunya. Bebas melakukan hal-hal yang tidak boleh dilakukan dengan orang yang bukan mahromnya. Atau acara-acara talkshow yang menampilkan bintang tamu dengan pakaian tidak sopan, tanpa sensor.

Bisnis acara TV sudah tidak memperhatikan lagi dampak buruknya untuk bangsa kita. Ibu Elly bertindak memerangi ini dengan caranya sebagai psikolog professional beserta yayasannya. Kita sebagai ibu-ibu dari anak-anak harapan bangsa, do something! Entah kirim surat protes ke KPI lah agar menghentikan tayangan-tayangan tersebut. Kirim surat ke media. Kampanye ke ibu-ibu arisan grup orang tua murid, supaya menjaga anak-anaknya juga dari tontonan tidak bermutu tersebut (ingat ya… kan anak-anak kita main sama anak-anak mereka …). Atau apalah, pasti ada sesuatu yang bisa kita lakukan.

Sebenarnya, apa sih yang akan terjadi dengan anak yang rutin terpapar pornografi hingga kecanduan?

Dr. Donald Hilton, seorang ahli bedah otak asal San Antonio, Texas, menemukan bahwa orang yang kecanduan pornografi mengalami kerusakan otak yang sama dengan dengan orang yang mengalami kecelakan kendaraan. Kecelakaan yang dimaksud yaitu yang mengakibatkan benturan yang sangat keras pada atas alis kanannya, di mana terletak prefrontal cortex (PFC).

PFC adalah bagian otak yang mengatur kemampuan otak untuk berpikir mengenai sesuatu yang rumit, seperti merencanakan masa depan, memahami dan menganalisa serta mengevaluasi sesuatu, organisasi. Selain itu juga kontrol diri, konsekuensi dari suatu perbuatan, ekspresi kepribadian, kemampuan bersosialisasi, pengambilan keputusan (yang biasanya matang di usia 25 tahun). Bisa dibilang bahwa PFC adalah direkturnya otak, tempat moral dan nilai.

Kecanduan pornografi akan mengakibatkan seseorang tidak dapat lagi membedakan mana yang benar dan salah, mana yang pantas mana yang tidak, juga kehilangan rasa malu (ingat anak SMP yang melakukan hubungan dengan disaksikan teman2 sekelasnya sambil direkam). Mereka bisa jadi tega mencuri, menyakiti orang hingga membunuh karena kerusakan otak itulah yang mengakibatkan mereka melakukan sesuatu tanpa berpikir dan tanpa menggunakan hati nurani (kehilangan kemampuan berpikir dan rasa perikemanusiaan). Kecanduan ini sama bahayanya dengan orang yang kecanduan marijuana, heroin atau kokain. Sama-sama mengakibatkan kerusakan otak yang sulit disembuhkan. Dan bahkan bisa jadi lebih parah. Pernah baca juga, kalau kecanduan narkoba ‘hanya’ mengakibatkan kerusakan otak pada 3 bagian, kecanduan pornografi bisa mengakibatkan kerusakan pada 5 bagian otak.

Ngeri banget ya?

Mungkinkan banyaknya tindakan kriminal dan korupsi di negeri ini, juga orang-orang yang tidak malu-malu lagi mengungkapkan aib-aib mereka ini juga akibat kecanduan pornografi?

Bagaimana kita bisa mengenali ciri anak yang kecanduan pornografi?

  • Kalau ditegur gampang marah
  • Impulsive, suka bohong, jorok, moody
  • Suka menyakiti adik
  • Malu tidak pada tempatnya
  • Sulit konsentrasi
  • Kalau bicara menghindari kontak mata
  • Suka menyalahkan orang, emosional, menutup diri
  • Prestasi akademis menurun
  • Main dengan kelompok tertentu
  • Hilang empati, jika minta sesuatu harus dipenuhi

Siapa saja sih yang menjadi target/sasaran dari pengusaha/produsen pornografi?

(Produsen dan pengusaha di sini, menurut saya tidak terbatas hanya bagi pengusaha komik, novel, film dan games porno, tetapi juga pengusaha video klip, sinetron (yang ceritanya sekilas drama remaja biasa tapi jika diamati sebenarnya mengandung banyak hal yang tidak pantas), iklan, film biasa termasuk film horor yang terselip unsur porno, seperti pemainnya yang pakai baju seksi atau adegan bermesraan walau tidak terlalu vulgar, tayangan2 tidak bermutu di TV yang walau judulnya talkshow tapi pakaian-pakaian bintang tamunya tidak sopan, dll)

  1. Laki-laki—karena mereka cenderung dominan memakai otak kiri, sehingga mudah focus
  2. Anak-anak yang belum baligh
  3. Anak-anak yang BLAST: Boring Lonely Angry and Afraid Stress Tired

Mereka itu anak-anak yang barangkali…

…masuk sekolah terlalu dini (jaman bapak ibu saya, mulai sekolah usia 7 tahun, langsung SD; jaman saya, mulai sekolah usia 4.5 tahun, pakai TK dulu; jaman anak saya sekarang, mulai sekolah PAUD mulai usia 3.25 tahun) fenomena ibu bekerja yang susah cari pengasuh anak yang baik, lingkungan juga lebih tidak aman dibanding dulu, jadi anak banyak dipingit di dalam rumah, nah dari pada anak kami nonton TV atau main games yang bisa bikin kecanduan mending disekolahkan saja, biar ada kegiatan dan pintar lebih awal.

Mereka itu anak-anak yang barangkali…

…kedua orang tuanya sibuk bekerja, atau sering dinas keluar kota, sementara jaman sekarang kebanyakan anak-anak punya saudara kandung lebih sedikit, sehingga merasa sendirian. Bahkan ada beberapa teman-teman saya yang kedua orang tuanya berkarier sehingga bapaknya tinggal di kota A… ibunya tinggal tinggal di kota B… anaknya dititipkan di eyangnya di kota C. Ketemuan beberapa minggu atau bulan sekali.

Mereka itu anak-anak yang barangkali…

…terlahir di luar nikah atau berasal dari keluarga broken home… fenomena semakin banyak kasus perceraian dengan usia pernikahan yang masih muda. Bahkan katanya kasus perceraian pasangan muda ini meningkat 400% (sayangnya saya missed, itu terjadi dalam kurun waktu berapa tahun dan di mana).

Mereka itu anak-anak yang barangkali…

…marah dengan kondisi keluarganya yang tidak harmonis namun tidak bisa mengungkapkannya… atau tidak memiliki hubungan dan pola komunikasi yang baik dengan orang tuanya… sehingga anak kurang kasih sayang, merasa tidak nyaman dan aman.

Mereka itu anak-anak yang barangkali…

…terbebani dengan kurikulum sekolah jaman sekarang yang terlalu berat, UN/UNAS, juga persaingan yang makin ketat.

Mereka itu anak-anak yang barangkali…

…lelah dengan semua beban itu dan tuntutan dari orang tua atau lingkungan agar menjadi anak yang berprestasi dan serba bisa.

Sehingga mereka butuh media untuk melampiaskan perasaan BLAST itu.

Oh ya, dalam kesempatan itu juga, ibu Elly menyindir sekaligus protes kepada pihak sekolah (dalam hal ini kebetulan yang hadir sekaligus sebagai pihak penyelenggara), yang memberi beban kepada anak didiknya terlalu banyak fenomena menjamurnya sekolah full day.

Apa yang mereka (pengusaha/produsen pornografi) inginkan dari anak-anak kita?

  1. Punya perpustakaan pornografi di otaknya
  2. Kerusakan otak permanen, dan akhirnya…
  3. Kecanduan, sehingga menjadi pelanggan seumur hidup produk mereka (bahkan menurut penelitian anak-anak ‘hanya’ perlu 33-36 kali ejakulasi, mereka bisa jadi pecandu pornografi seumur hidup). Ya, bayangkan saja kalau anak-anak mulai kecanduan sejak usia SD, bukankah itu menjadi future market yang amat sangat potensial di sepanjang hidupnya, bagi para produsen?

https://erinyudha.wordpress.com

(Visited 771 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.