Generasi Setinggi Langit

TINGGI LANGIT“Nak, gantungkan cita-citamu setinggi langit.” Kalimat ini tidak asing di telinga kita. Sebuah pesan pendidikan yang tak lekang ditelan zaman. Dari generasi ke generasi, anak-anak ditanamkan semangat dan motivasi menuntut ilmu agar dapat meraih impian mereka di masa mendatang.

Upaya pendidikan untuk mengantarkan generasi setinggi langit tentu bukan sekadar isapan jempol atau ucapan pemanis bibir belaka. Hanya membakar semangat yang meletup agar mau giat belajar saja. Motivasi dan impian yang tinggi perlu disiapkan dan didukung dengan segala sesuatu yang menjadikan mereka mampu meraih cita setinggi langit. Karena jika tidak maka bisa jadi langit tak terjangkau, bumi pun tak dipijak. Akibatnya hadir generasi yang tak mampu berdiri tegak dan kokoh. Hingga bermunculan generasi terdidik dan terpelajar yang kaya dengan masalah.

Al Quran sebagai panduan orang beriman dalam segala urusan ternyata memberi permisalan yang unik. Allah SWT berfirman dalam surah Ibrahim ayat 24:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (٢٤)

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit.”

Pernahkah kita melihat atau memikirkan pohon yang tumbuh di bumi namun cabang dan dedaunannya mencapai langit? Inilah perumpamaan Al Quran yang indah dan ajaib. Dalam tafsir Ibnu Katsir, salah satu maksud dari pohon yang baik adalah orang mukmin. Dimana hati mereka tertanam kalimat thoyyibah. Hal ini merupakan perumpamaan untuk perbuatan orang beriman, ucapannya yang baik dan amal yang shaleh. Dengan izin Allah dan keberkahan, amal perbuatannya menjulang hingga ke langit.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga memberi perumpamaan pribadi orang beriman seperti pohon kurma. Bukhari dan Muslim meriwayatkan kisah Abdullah bin Umar saat Nabi memberi pertanyaan yang menggambarkan orang beriman. Daunnya tidak rontok, senantiasa berbuah setiap waktu, buah dan manfaatnya tidak akan habis hingga pohon itu tumbang dan mati.

Inilah bagian dari panduan Allah untuk mendidik Nabi, para Sahabat dan umatnya. Maka jika bertanya output pendidikan tersebut, kita dapat melihat karya, prestasi, success story dan sumbangsih mereka bagi peradaban manusia. Manusia yang kakinya berpijak di bumi namun dapat menggapai langit.

Jika pendidikan zaman ini kesulitan menghadirkan generasi setinggi langit mungkin kita belum menjadikan langkah sukses generasi itu sebagai pedoman. Atau mungkin ada sesuatu yang terlupakan oleh para orangtua, guru, lembaga pendidikan dan sebagainya.

Di dalam surah Ibrahim ayat 24, pohon yang baik itu dapat menjulang tinggi bermula dari akar yang kokoh(اَصْلُهَا ثَابِت). Maka hasilnya pada akhir ayat 24 dan 25, ia dapat menjulang tinggi ke langit dan berbuah setiap masa. Sebaliknya, pada ayat 26 dijelaskan pohon yang buruk itu saat akarnya telah tercabut. Ia tidak akan mampu tegak berdiri. Semua dimulai dari AKAR.

Dalam kitab Ushul min Ilmil Ushul, makna Ushul (yang artinya akar) yaitu apa yang dibangun di atasnya selainnya. Ilmu-ilmu atau pelajaran yang dibangun diatasnya selain ilmu atau pelajaran itu sendiri. Itulah akar atau pondasi yang menyebabkan manusia dapat kokoh menjulang tinggi ke langit atau roboh tak mampu berpijak di permukaan bumi. Maka tanyakan pada pendidikan zaman ini, sudahkah kita menyiapkan akar dan pondasinya? Atau jangan-jangan kita sibuk menanamkan ilmu tanpa memperhatikan kesiapan akar dan pondasinya. Jika tidak ada yang disiapkan sebelum membangun ilmu, maka apa akar dan pondasi dari ilmu-ilmu tersebut?

Duhai dunia pendidikan yang mencetak generasi harapan, apa akar dan pondasi dari ilmu-ilmu yang kita pelajari saat ini?

 

Surya Abu Yusuf

(Visited 146 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.