Ada Konspirasi di Balik Vaksin Imunisasi?

“Jika kita merunut sejarah vaksin modern yang dilakukan oleh Flexner Brothers, kita dapat menemukan bahwa kegiatan mereka dalam penelitian tentang vaksinasi pada manusia didanai oleh Keluarga Rockefeller. Rockefeller sendiri adalah salah satu keluarga Yahudi yang paling berpengaruh di dunia, dan mereka adalah bagian dari Zionisme Internasional.

Kenyataannya, mereka adalah pendiri WHO dan lembaga strategis lainnya:
The UN’s WHO was established by the Rockefeller family’s foundation in 1948 – the year after the same Rockefeller cohort established the CIA. Two years later the Rockefeller Foundation established the U.S. Government’s National Science Foundation, the National Institute of Health (NIH), and earlier, the nation’s Public Health Service (PHS). Dr. Leonard Horowitz dalam “WHO Issues H1N1 Swine Flu Propaganda”.

Dilihat dari latar belakang WHO, jelas bahwa vaksinasi modern (atau kita menyebutnya imunisasi) adalah salah satu campur tangan (baca : konspirasi) Zionisme dengan tujuan untuk menguasai dan memperbudak seluruh dunia dalam “New World Order” mereka…”

Uraian panjang lebar bernada provokatif terkait program imunisasi yang setiap tahun dilakukan pemerintah melalui Pekan Imunisasi Nasional (PIN), seperti di atas, mudah dilacak melalui internet.

Salah satu penyebab munculnya pro dan kontra terhadap imunisasi, seperti imunisasi polio dan menginitis, adalah awal mula gagasan dari program tersebut dibuat, serta produk vaksin yang pada awal seed induknya merupakan produk impor.

Vaksinasi mulanya merupakan landasan di dunia medik untuk menciptakan sistem kekebalan tubuh, sehingga setiap bayi yang lahir sudah harus diberikan vaksin.

Masalahnya adalah, di negeri ini mayoritas penduduknya adalah orang Islam yang tidak serta merta dapat menerima sembarang asupan yang harus dimasukkan ke dalam tubuh. Ada hukum halal dan haram dalam Islam yang dianut umat Islam. Sehingga ketika ada sebuah produk vaksin yang diisukan berasal dari bahan-bahan najis seperti darah rusak, nanah sapi yang sakit, darah babi, otak kelinci, ginjal anjing, isi perut ayam, dan lainnya, sebagian umat Islam di sini memilih untuk menjauhinya.

Karena itu, untuk menepis isu konspirasi jahat kelompok tertentu terhadap umat Islam, pemerintah dan ulama seperti yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI) harus segera meyakinkan bahwa vaksin-vaksin tersebut halal dan bermanfaat bagi generasi penerus.

Meyakinkan masyarakat yang sudah kadung meragukan vaksin imunisasi tidaklah mudah. Karena itu, peran pemerintah dan ulama sangat urgen untuk mendudukan masalah ini. Mereka harus dapat menjelaskan soal hukum vaksin, yang dikembalikan kepada bahan baku yang digunakan, serta dampak atau akibat yang ditimbulkan.

Pada tahun 2005 silam, MUI mengeluarkan fatwa Nomor 16 tentang kedaruratan penggunaan vaksin polio (yang dikuatkan dengan fatwa MUI Nomor 4, 23 Januari 2016), dimana pemberian vaksin polio diperbolehkan sementara, sepanjang belum ada vaksin yang produksinya menggunakan media dan proses yang sesuai dengan syariat Islam. Sementara, vaksin polio sejak awal seed induknya dikembangkan dengan menggunakan enzim babi.

Jika pembuatan vaksin polio itu tak rumit, mungkin perusahaan-perusahaan farmasi di dalam negeri sudah memproduksinya. Namun, kenyataannya hingga kini belum ada satu pun yang sanggup menyediakan vaksin yang terjamin 100 persen halal. Perusahaan seperti Bio Farma yang memproduksi vaksin polio pun masih belum bisa menjamin kehalalannya secara lengkap. Alih-alih mendapatkan kepercayaan publik, sebuah iklan layanan publik berjudul “Vaksinasi Polio Aman dan Halal” yang diterbitkan pada Februari lalu, mendapat tentangan dari kelompok masyarakat.

Halal Watch yang mengklaim sebagai representasi konsumen muslim di Indonesia, menggugat materi publikasi tersebut yang mencantumkan logo halal MUI. Sebab, perusahaan tersebut dianggap belum pernah mengajukan sertifikat halal untuk vaksin yang diproduksinya.

Bio Farma, seperti dikutip laman biofarma.co.id Senin (7/3/2016) menjelaskan bahwa vaksin polio yang digunakan dalam PIN 2016 tidak menggunakan bahan dari babi. Penjelasan itu dikeluarkan menyusul beredarnya viral di medsos yang menyebut dalam bungkus vaksin polio bertuliskan “pada proses pembuatannya bersinggungan dengan bahan bersumber babi” adalah vaksin polio suntik. Sementara vaksin polio yang diberikan dalam PIN Polio 2016 berupa vaksin tetes, bukan suntik.
Jika masalah kehalalan vaksin imunisasi masih belum jelas, dikhawatirkan kampanye soal konspirasi di balik program imunisasi akan mendapatkan pembenarannya. Mestinya itu tidak terjadi di negeri ini. (channelmuslim)

(Visited 229 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.