Nabi Muhammad SAW Teladan Kepemimpinan Yang Berempati

Sebuah pelajaran yang melekat di pikiran saya dari guru mengaji yang mengajari secara privat membaca Al Quran semasa kecil yaitu Hj. Ghadidjah Ganie (almh) ialah tentang ayat terakhir surat At-Taubah, (terjemahannya): “Sungguh telah datang kepada kamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan kepada orang-orang yang beriman dia sangat belas-kasihan lagi penyayang. Jika mereka berpaling, katakanlah: Cukup bagiku Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia, kepada-Nyalah aku bertawakkal dan Dia adalah yang mempunyai Arasy yang agung.“ (QS At-Taubah (9): 128-129). Guru mengajiku menganjurkan ayat ini dihafal dan sering dibaca.

Prof. Dr. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan, ayat di atas menerangkan tiga sifat pokok yang istimewa pada diri Muhammad Saw dalam memimpin umatnya. Sifat-sifat utama dan mulia yang menjadi syarat mutlak kejayaan seorang pemimpin.

Pertama, ‘Aziz, artinya berat baginya apa yang kamu susahkan, siang dan malam yang beliau fikirkan hanyalah keadaan nasib umatnya. Berat baginya kalau umatnya ini miskin atau menjadi jajahan orang asing. Berat rasanya bagi beliau kalau umat ini celaka di dunia dan sengsara pula di akhirat. Sampai nyawanya akan bercerai dari badannya, perasaan ini jugalah yang memenuhi fikiran beliau.

Kedua, sangat ingin akan kebaikan kamu, perhatiannya siang dan malam hanyalah bagaimana supaya kamu baik, bagaimana supaya kamu maju, selamat hubunganmu dengan Tuhan dan selamat pula hubunganmu sesama manusia.

Ketiga, Rauf dan Rahim, yakni belas kasihan dan berhati sayang yang mencapai puncak tertinggi sekali. Rauf adalah kasih sayang khusus kepada yang lemah, yang miskin, melarat, sakit, gagal, anak yatim kematian ayah dan sebagainya. Beliau tatkala hidupnya membuat peraturan bahwa orang Muslim yang mati dalam berhutang, beliau yang akan membayar hutangnya. Kemudian, sifat Rahim lebih umum dari sifat Rauf. Kasih dan sayang meliputi dan merata, kepada yang miskin dan kepada yang kaya, kepada yang gagal atau kepada yang jaya.

Nabi Muhammad Saw adalah penutup kenabian dan kerasulan. Tidak Nabi dan Rasul sesudah Muhammad. Kebenaran Islam yang disampaikan oleh Muhammad sebagai utusan Allah merupakan kebenaran sepanjang masa. Hanya dalam waktu sekitar 23 tahun, Islam telah berhasil dengan gemilang mengadakan perubahan dan perombakan yang sangat revolusioner pada semua aspek kehidupan bangsa Arab.

Agama Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad telah melahirkan suatu umat-bangsa yang terbaik sepanjang perjalanan sejarah. Generasi pertama kaum Muslimin yang dinamakan “generasi sahabat”, adalah generasi pembuka lembaran baru perubahan dan perkembangan dunia yang sangat menakjubkan.
Dalam Ma’alim fit Tharieq (Petunjuk Jalan) Asy-Syahid fi Sabilillah Sayid Quthub mengajak seluruh orang, terutama para juru dakwah supaya merenungkan kurun sahabat itu yang dinamakannya “Generasi Qur’ani Yang Unik”. Ia mengungkapkan, “Dakwah Islamiyah sudah pernah menghasilkan suatu generasi manusia, yaitu Generasi Sahabat, semoga Allah meridhai mereka, suatu generasi yang mempunyai citra tersendiri dalam seluruh sejarah Islam, bahkan seluruh sejarah umat manusia. Dan tidaklah pernah dakwah melahirkan generasi yang sebaik itu pada kali yang lain.

Memang banyak diperoleh orang-orang besar sepanjang perjalanan sejarah, tetapi belumlah terjadi dalam suatu masa dan pada suatu tempat berkumpul manusia-manusia baik yang demikian banyak jumlahnya, seperti halnya terjadi pada generasi yang pertama dari kehidupan dakwah islamiyah ini.”

Muhammad Rasulullah tidak hanya meneladankan ilmu, meneladankan kepemimpinan, meneladankan keberanian dan keadilan, tapi juga meneladankan kehidupan. Umat manusia dalam perputaran nasib; suka dan duka, senang dan susah, kaya dan miskin, seyogyanya meneladani perikehidupan Nabi.
Sebuah ajaran tentang kepemimpinan dari Nabi Muhammad menegaskan pemimpin adalah pelayan. Nabi bersabda, “Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.” (HR Ibnu Asakir, Abu Nu’aim). Penderitaan berkepanjangan kerapkali menimpa suatu bangsa dan umat manusia ketika pemimpin yang memegang kekuasaan tidak amanah, tidak menegakkan keadilan, mengabaikan kebenaran, dan kehilangan empati terhadap penderitaan rakyat.

William Montgomery Watt, seorang profesor yang mengajar di Universitas Edinburgh (Inggris) dalam bukunya Muhammad: Prophet and Statesman, menguraikan secara komprehensif analisa sejarah hidup Muhammad dalam kacamata kontemporer. Menurut Montgomery Watt, ada tiga fondasi utama yang menjadi landasan kebesaran kenegarawanan Muhammad:

Pertama, Muhammad mempunyai bakat dan visi sebagai pengamat yang jeli dan bisa menerawang melihat berbagai permasalahan jauh ke depan.

Kedua, Muhammad sebagai negarawan yang bersifat bijaksana dalam melaksanakan segala sikap kenegarawanannya.

Ketiga, Muhammad memiliki seperangkat kecakapan dan strategi sebagai seorang administrator dan mempunyai pengetahuan dalam memilih para pembantunya. Ketika Muhammad meninggal dunia, negara yang telah ia bangun sudah mapan dan dapat bertahan serta bisa menanggulangi berbagai goncangan, dan kemudian negara itu dapat berkembang secara cepat. Seandainya bukan karena kecakapannya sebagai negarawan dan administrator, dan di balik semua ini, kepercayaannya kepada Tuhan dan keyakinannya bahwa Tuhan yang telah mengutusnya, maka sebuah bab penting dalam lembaran perjalanan sejarah umat manusia tidak akan pernah ditulis, demikian Montgomery Watt dalam kutipan Prof. Dr. Faisal Ismail (Ketegangan Kreatif Peradaban Islam, 2003).

Dalam menghayati hakikat Maulid Nabi, marilah kita memahami ajaran dan nilai-nilai kehidupan Muhammad Rasulullah sebagai uswatun hasanah, meneladani karakter kepemimpinan Rasulullah sebagai pemimpin yang sukses dan berempati terhadap penderitaan umat manusia, serta melatih diri untuk melaksanakan ajaran Islam dengan baik.(M. Fuad Nasar)
Sumber gambar : google.com

(Visited 115 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.