Beasiswa Abu Hanifah

Mencari Ilmu atau Mencari Uang. Sebuah dilema memang, ketika disuruh memilih antara mencari ilmu atau mencari uang. Jika mencari ilmu maka tidak bisa mencari uang, jika mencari uang maka tak bisa mencari ilmu. Hal itulah yang dialami oleh Abu Yusuf (w. 182 H), salah seorang murid utama Abu Hanifah (w. 150 H).

Bisa dikatakan bapaknya Abu Yusuf ini seorang yang miskin. Suatu ketika bapak Abu Yusuf berkata kepada Abu Yusuf: “Anakku, kita ini keluarga yang tidak punya. Berhentilah mengaji dari Abu Hanifah dan bekerjalah mencari uang.” Abu Yusuf kecil gamang, manakah yang harus dipilih. Jika kerja maka tidak bisa mencari ilmu, jika mencari ilmu tidak punya uang untuk makan. Padahal dia sangat ingin mencari ilmu. Akhirnya karena keadaan, Abu Yusuf taat kepada bapaknya dan berhenti datang ke majlis Abu Hanifah.

Barangkali yang senasib Abu Yusuf ini sangat banyak jumlahnya. Banyak yang ingin selalu mencari ilmu, tetapi keadaan tidak memungkinkan. Tapi banyak juga yang mempunyai waktu, kesempatan dan biaya tetapi malah tidak mau mencari ilmu.

Mengetahui hal itu, sang guru Abu Hanifah memanggil Abu Yusuf. “Wahai Abu Yusuf, saya dengar kamu tidak ikut ngaji karena alasan ekonomi ya? Ini ada uang 100 dirham buat kamu. Kamu belajarnya dilanjutkan ya! Nanti kalo sudah habis bilang lagi, saya akan kasih lagi.” (ad-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 7/ 470)

Masyaallah, begitu girangnya Abu Yusuf saat itu. Beliau mendapat beasiswa langsung dari sang guru agar tetap bisa belajar.

Guru Visioner

Menjadi guru model Abu Hanifah memang bukan hal yang mudah. Abu Hanifah selain seorang yang alim, beliau juga seorang kaya, sampai berani memberi beasiswa kepada muridnya agar tetap bisa belajar. Bisa dikatakan Abu Hanifah merupakan guru yang visioner. Terbukti Abu Yusuf kelak menjadi murid terbaik Abu Hanifah.

Terbukti juga Madzhab Hanafi berkembang cukup pesat pada masa Daulah Bani Abbasiyyah di tangan Abu Yusuf dan para murid lainnya, seperti Zufar bin Hudzail dan Muhammad bin Hasan. Abu Yusuf menjadi penyebar Madzhab Hanafi, beliau selama tiga periode berturut-turut menjadi qadhi resmi kerajaan, yaitu masa al-Mahdi, al-Hadi dan ar-Rasyid atau Harun ar-Rasyid. Sampai bergelar qadhi al-qudhat; qadhinya para qadhi.

Hidup Menulis atau Mati Ditulis

Bisa dikatakan banyak yang meragukan bahwa Imam Abu Hanifah (w. 150 H) ini pernah menulis suatu kitab dengan tangan sendiri. Berbeda dengan Imam as-Syafi’i (w. 204 H) yang menulis cukup banyak kitab, maka tak heran kita masih tetap bisa membaca pemikiran Imam Syafi’i. Meski ada riwayat bahwa Imam Abu Hanifah mempunyai kitab al-Fiqhu al-Akbar. Tetapi tak sedikit yang masih meragukan keabsahan penisbatan kitab itu kepada Imam Abu Hanifah.

Terlepas dari itu semua, Madzhab Hanafi ternyata bisa berkembang cukup pesat. Sampai saat inipun nama Imam Abu Hanifah selalu disebut ketika sedang membicarakan hukum-hukum Islam.
Jika ditilik lebih jauh, paling tidak ada dua cara agar nama seorang itu bisa terus dikenang sepanjang zaman. Pertama, menghasilkan tulisan yang akan selalu dibaca lintas generasi. Atau kedua, menghasilkan generasi yang bisa menuliskan dan meneruskan pemikiran seseorang itu.
Abu Hanifah (w. 150 H) meski tak pernah menuliskan kitab Madzhab Hanafi dengan tangannya sendiri, beliau telah mempersiapkan generasi terbaik yang akan meneruskan pemikiran-pemikiran beliau. Rumusnya dalam Bahasa Arab, “Isy katiban au mut maktuban” hidup dengan menulis (sendiri) atau mati dengan ditulis (orang lain).

Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim bin Habib bin Saadadalah contoh keberhasilan cara kedua agar seorang akan terus dipelajari pemikirannya.

Seklumit Tentang Abu Yusuf

Nama lengkap Abu Yusuf adalah Ya’qub bin Ibrahim bin Habib bin Saad, lahir tahun 113 H dan wafat pada tahun 182 H, tepatnya hari kamis bulan Rabiul Awal. Saad adalah salah seorang shahabat Nabi Muhammad shallaAllahu alaihi wa sallam. Beliau sering ikut berperang bersama Nabi, diantaranya ketika perang Khandaq. Setelah itu beliau pindah ke Kufah.

Guru Abu Yusuf sangatlah banyak, tetapi yang paling mempengaruhi pemikiran beliau adalah Imam Abu Hanifah (w. 150 H), Ibnu Abi Laila, Al-A’masy, Ibnu Ishaq, Ats-Tsauri.Abu Yusuf menimba ilmu dari Abu Hanifah sepanjang 17 tahun.

Murid beliau cukup banyak, diantaranya Yahya bin Main, Ahmad bin Hanbal, Hilalu ar-Ra’yi dan masih banyak lagi ulama yang lain.

Abu Yusuf menjadi qadhi sekaligus wazir dari Khalifah Harun ar-Rasyid. Bahkan beliau menjadi qadhi selama tiga generasi khalifah; al-Mahdi, al-Hadi dan ar-Rasyid. Yaitu mulai tahun 166 H sampai beliau wafat di tahun 182 H, atau sekitar 16 tahun.

Kitab karangan beliau: al-Kharraj, al-Atsar atau Musnad Abi Hanifah, Ikhtilafu Ibn Abi Laila wa Abi Hanifah dan masih banyak lagi yang lain. (Muhammad Zahid al-Kautsari menulis kitab tentang Abu Yusuf; Husnu at-Taqadhi fi Sirati Abi Yusuf al-Qadhi, 62)
Ahli Haditsnya Ahlu ar-Ra’yi

Abu Yusuf selain menjadi seorang faqih juga seorang ahli hadits. Yahya bin Main (w. 233 H) pernah berkata:

ما رأيت في أصحاب الرأي أثبت في الحديث ولا أحفظ، ولا أصح رواية من أبي يوسف

Saya tidak pernah menemukan orang yang lebih hafal terhadap hadits, dan lebih shahih riwayatnya dari Abu Yusuf (Syamsuddin ad-Dzahabi (w. 748 H), Manaqibu al-Imam Abi Hanifah wa Shahibaihi, 62)

Berdoa Kepada Sang Guru

Sebagai bentuk penghormatan kepada sang guru, Abu Yusuf tak lupa selalu mendoakan gurunya selepas shalat; ya Allah! Semoga engkau mengampuniku, mengampuni kedua orang tuaku dan mengampuni Abu Hanifah. (Waki’ Abu Bakar Muhammad bin Khalaf (w. 306 H), Akhabaru al-Qudhat, 3/ 254)

Semoga semakin banyak Abu Hanifah-Abu Hanifah lain, yang akan menyelamatkan Abu Yusuf-Abu Yusuf masa kini, sehingga menjadi ahli fiqih sekaligus ahli hadits. Amin [Hanif Luthfi, Lc]
Sumber gambar : google.com

(Visited 95 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.