Sebab Melaksanakan Shalat Jama’ Dan Qasar

Ibadah shalat adalah wajib hukum nya untuk umat muslim, walaupun sedang sakit kewajiban itu tetap melekat kepadanya. Tetapi adakalanya dalam beberapa waktu kita mengadakan perjalanan jauh, misalnya pulang kampung, bersilaturahmi, atau keperluan lainnya yang tidak untuk perbuatan maksiat. Terkadang juga kita mengalami coban berupa sakit sampai-sampai tidak dapat bangun, Hal itu menyebabkan kita sering menjumpai kesulitan untuk melakukan ibadah salat.

Padahal salat merupakan kewajiban umat Islam yang tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan apapun juga.

Melihat hal ini, ibadah shalat seolah merupakan beban yang memberatkan. Padahal tidaklah demikian. Islam adalah agama yang memberi kemudahan dan keringanan terhadap pemeluknya di dalam rutinitas ibadah kepada Allah swt. Hal ini menandakan kasih sayang Allah kepada umat Islam sedemikian besar dengan cara memberikan pengecualian dalam melaksanakan shalat dengan cara jama’ dan qasar dengan syarat-syarat tertentu.

Memahami Pengertian Shalat Jama’ ? Berikut tata cara pelaksanaan shalat jama’ dan Qasar:
Shalat Jama’

Salat jama’ adalah salat yang digabungkan, maksudnya menggabungkan dua salat fardu yang dilaksanakan pada satu waktu. Misalnya menggabungkan salat Duhur dan Asar dikerjakan pada waktu Duhur atau pada waktu Asar. Atau menggabungkan salat magrib dan ‘Isya dikerjakan pada waktu magrib atau pada waktu ‘Isya. Sedangkan salat Subuh tetap pada waktunya tidak boleh digabungkan dengan salat lain.

Hukum mengerjakan salat Jama’ adalah mubah (boleh) bagi orang-orang yang memenuhi persyaratan.
“Rasulullah apabila ia bepergian sebelum matahari tergelincir, maka ia mengakhirkan salat duhur sampai waktu asar, kemudian ia berhenti lalu menjama’ antara dua salat tersebut, tetapi apabila matahari telah tergelincir (sudah masuk waktu duhur) sebelum ia pergi, maka ia melakukan salat duhur (dahulu) kemudian beliau naik kendaraan (berangkat), (H.R. Bukhari dan Muslim).

Dari hadis di atas dapat disimpulkan bahwa Rasulullah pernah menjama’ salat karena ada suatu sebab yaitu bepergian. Hal menunjukkan bahwa menggabungkan dua salat diperbolehkan dalam Islam namun harus ada sebab tertentu.

Salat jama’ boleh dilaksanakan karena beberapa alasan (halangan), yakni:
1. Dalam perjalanan jauh minimal 81 km (menurut kesepakatan sebagian besar imam madzhab)
2. Perjalanan itu tidak bertujuan untuk maksiat.
3. Dalam keadaan sangat ketakukan atau khawatir misalnya perang, sakit, hujan lebat, angin topan dan bencana alam.

Shalat fardu dalam sehari semalam yang boleh dijama’ adalah pasangan salat duhur dengan asar dan salat magrib dengan ‘isya. Sedangkan salat subuh tidak boleh dijama’. Demikian pula orang tidak boleh menjama’ salat asar dengan magrib.

Shalat jama’ dapat dilaksanakan dengan dua cara:

1. Jama’ Takdim (jama’ yang didahulukan), yakni menjama’ dua salat yang dilaksanakan pada waktu yang pertama. Misalnya menjama’ salat duhur dengan asar, dikerjakan pada waktu duhur ( 4 rakaat salat duhur dan 4 rakaat salat asar) atau menjama’ salat magrib dengan ‘isya dilaksanakan pada waktu magrib (3 rakaat salat magrib dan 4 rakaat salat ‘isya).

2. Jama’ Ta’khir (jama’ yang diakhirkan), yakni menjama’ dua salat yang dilaksanakan pada waktu yang kedua. Misalnya menjama’ salat duhur dengan asar, dikerjakan pada waktu asar atau menjama’ salat magrib dengan ‘isya dilaksanakan pada waktu ‘isya.

Dalam melaksanakan salat jama’ takdim maka harus berniat menjama’ salat kedua pada waktu yang pertama, mendahulukan salat pertama dan dilaksanakan berurutan, tidak diselingi perbuatan atau perkataan lain. Adapun saat melaksanakan jama’ ta’khir maka harus berniat menjama’ dan berurutan. Tidak disyaratkan harus mendahulukan salat pertama. Boleh mendahulukan salat pertama baru melakukan salat kedua atau sebaliknya.
Duniaislam.org, sumber gambar : google.com

(Visited 443 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.