Manajemen Asset Murabahah: Alternatif Pembiayaan Bank Syariah

bank syariahPendahuluan

Perbankan syariah sebagai salah satu lembaga Keuangan di Indonesia memiliki peranan sebagai financial intermediaries, yang menjadi penghubung antara nasabah deposan dengan nasabah yang membutuhkan dana, baik perorangan maupun proyek. Salah satu ukuran kinerja perbankan syariah adalah seberapa besar dana yang disalurkan ke masyarakat melalui skema-skema pembiayaan yang dimiliki. Perbankan syariah adalah perbankan yang erat dengan pertumbuhan sektor riil. Semakin besar pembiayaan yang diberikan, maka pengaruh kemanfaatan kehadiran perbankan syariah dimaksud juga akan semakin besar. Berdasarkan data statistik perbankan syariah Indonesia tahun 2016 bahwa FDR (Finance to Deposit Ratio) adalah berkisar 86 – 89 %. Angka ini adalah angka yang sudah baik dan menunjukkan bahwa hampir sebagian besar dana shahibul maal (investor/deposan) telah disalurkan melalui skema pembiayaan. Namun dari figure FDR dimaksud masih terdapat peluang untuk meningkatkan volume penyaluran dana. Di sisi lain, disadari bahwa perbankan syariah harus menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran dana.

Skema Manajemen Asset Murabahah

Pembiayaan merupakan salah satu fungsi yang dilakukan oleh bank syariah sebagai lembaga intermediasi. Untuk menyalurkan dana pihak ketiga maka bank syariah harus menjaga prinsip prudential, yaitu bahwa dana yang disalurkan harus bisa kembali sebagai pertanggungjawaban kepada pihak shahibul maal yang telah menginvestasikan dananya. Karena itu pembiayaan berbasis manajemen risiko harus selalu diterapkan. Salah satu alternatif baru skema  penyaluran dana yang bisa diterapkan dengan memperhatikan risiko adalah pembiayaan berbasis komoditas yang dikenal dengan Manajemen Asset Murabahah.

Perjanjian Manajemen Asset Murabahah  adalah suatu skema perjanjian yang dilakukan oleh tiga pihak yaitu bank syariah sebagai lembaga yang melakukan pembiayaan, nasabah yang mendapat fasilitas/manfaat  dari bank syariah terkait dengan penyaluran dana bank syariah, ketiga MAM (Murabahah Asset Manager) sebagai pihak ketiga yang menjalankan fungsinya untuk memastikan keberadaan komoditas di gudang sesuai spesifikasi dan kuantitasnya. MAM akan melakukan pemeriksaan kuantitas dan/atau kualitas komoditas di lokasi tempat penyimpanan.

Secara umum  mekanisme dimulai dari perjanjian bilateral antara bank syariah dengan nasabah dalam kerangka akad murabahah, bank sebagai penjual komoditas dan nasabah sebagai pembeli. Dalam kerangka perjanjian ini, nasabah juga akan bertindak sebagai avalis (penjamin pembelian komoditas), dalam arti bahwa nasabah akan menjamin untuk melakukan pembelian atas komoditas yang diadakan oleh bank syariah. Bahkan dalam kondisi tertentu, bank akan menyediakan komoditas setelah ada pesanan/kesanggupan dari nasabah untuk membeli. Kemudian dibuat Perjanjian Manajemen Asset Murabahah (PMAM) trilateral antara bank syariah, nasabah dan pihak ketiga. Pada perjanjian ini, bank syariah bersama-sama nasabah akan menunjuk pihak ketiga sebagai MAM. Nasabah dan/atau Bank syariah akan mengajukan gudang atau lokasi penyimpanan komoditas yang akan dijadikan tempat dimana pemasok komoditas mengirimkan komoditasnya, dan komoditas akan disimpan sebelum dikirimkan ke nasabah.

Tempat penyimpanan bisa berupa gudang untuk komoditas yang bersifat padat baik dalam kemasan maupun curah (misalkan jagung, biji kopi), silo untuk penyimpanan komoditas curah padat (misalnya gandum), tangki timbun untuk penyimpanan komoditas cair (misalnya crude palm oil), atau stock yard untuk penyimpanan komoditas yang memiliki karakteristik  tidak terpengaruh pada perubahan cuaca (misalnya baja). Gudang atau lokasi penyimpanan dimaksud harus dicek dari aspek teknis maupun administrasi oleh MAM. Secara teknis gudang harus memenuhi persyaratan teknis standar gudang sesuai persyaratan berdasarkan jenis komoditas atau sesuai dengan SNI (Standar Nasional Indonesia) yang berlaku. Gudang secara legal harus dapat dialihkan pengelolaan/penguasaan kepada MAM. Gudang tidak dalam sengketa. Kemudian setelah gudang sesuai persyaratan, kegiatan pembelian dan penyimpanan komoditas di gudang dimaksud baru bisa dimulai.

Setelah ada janji beli dari nasabah atas suatu komoditas yang dibutuhkan oleh nasabah, maka bank akan melakukan pembelian komoditas dimaksud. MAM akan melakukan inspeksi, pemeriksaan terhadap komoditas yang dipasok oleh pemasok. Jika spesifikasi komoditas adalah sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan nasabah, maka komoditas diterima dan pemasukan komoditas ke gudang akan diawasi oleh MAM sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan nasabah. MAM akan menerbitkan Warehouse Receipt (WR) sebagai bukti tanda terima komoditas di gudang (WR) dan menyerahkan ke bank. WR yang dimaksud akan dijadikan dasar dalam pembayaran ke pemasok. Nilai yang dibayarkan oleh bank akan sesuai dengan jumlah dan kualitas hasil pemeriksaan MAM sesuai yang tertera pada WR. Selanjutnya komoditas akan disimpan di dalam  gudang yang diawasi 1 x 24 jam perhari oleh MAM selama perjanjian berlaku.

Mekanisme pengambilan komoditas oleh nasabah dilakukan setelah ada instruksi dari bank syariah. Instruksi akan diterbitkan setelah nasabah melakukan pembayaran kepada bank syariah. MAM akan melakukan pengawasan pengeluaran komoditas. Jumlah dan jenis komoditas yang dikeluarkan adalah berdasarkan instruksi pengeluaran bank. Laporan posisi komoditas dan arus mutasi (masuk dan keluar) akan dilaporkan MAM ke Bank Syariah secara rutin per periode (dua mingguan atau per bulan).

Pengurang Risiko  

Dengan skema perjanjian Manajemen Aset Murabahah ini, maka akan bisa membantu bank syariah dalam mengelola komoditas yang menjadi assetnya, mulai saat komoditas akan dibeli terkait dengan penentuan kualitas atau kuantitas, saat komoditas disimpan di gudang atau lokasi penyimpanan untuk memastikan bahwa komoditas disimpan secara baik sesuai dengan kaidah penyimpanan (good handling practices) dan terakhir adalah pemastian jenis komoditas serta jumlah yang akan diserahkan kepada nasabah bank syariah pada saat komoditas akan diserahterimakan. Peranan pemastian delivery komoditas dimaksud akan diserahkan kepada MAM sebagai pihak ketiga yang independen dan memiliki kompetensi terkait dengan pemeriksaan komoditas dan pengelolaannya. Dalam menjalankan tugasnya, MAM akan bertindak secara profesional. Karena Bank tidak berada di gudang atau lokasi penyimpanan komoditas, maka MAM mewakili bank syariah dalam menjalankan fungsi untuk memastikan keberadaan komoditas sesuai dengan spesifikasi yang akan ditransaksikan antara pihak bank dengan pihak pemasok komoditas atau pihak bank dengan nasabah. Dengan PMAM maka juga akan membantu bank syariah dalam pengelolaan risiko misalnya pemenuhan prinsip syariah bahwa transaksi tidak gharar.

Indonesia sebagai negara penghasil utama komoditas primer, seperti biji kakao, biji kopi, crude palm oil, karet dari sektor pertanian, batubara dan berbagai produk mineral, hasil hutan dan produk turunannya, serta sektor minyak dan gas, merupakan potensi bagi bank syariah untuk mengembangkan kegiatan melalui skema PMAM. Dengan skema ini maka, fungsi bank syariah dalam  peningkatan perekonomian Indonesia, khususnya mendukung pertumbuhan sektor riil akan semakin terlihat nyata, karena pembiayaan yang didasarkan pada perdagangan komoditas.

 

Penulis : Dr. Ir. Aslam MN Widigdo

(Visited 119 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.