Bad Leaders Perusak Generasi

BAD LEADERTom Peters pernah berkata, “Pemimpin tidak sekadar menciptakan pengikut. Pemimpin lebih banyak menciptakan pemimpin.” Mungkin itu merupakan ciri pemimpin yang ideal, pemimpin yang melahirkan pengikut yang siap menjadi pemimpin.

Tapi bagaimana dengan bad leaders?

Mungkinkah melahirkan pengikut yang siap menjadi pemimpin?.

Jamil Azzaini, mengatakan bahwa, “bad leaders melahirkan banyak follower tetapi tidak melahirkan leaders.” Mungkin banyak di organisasi atau di kantor, bad leaders ini bisa membawa banyak followers-nya mencapai target, hingga hampir semuanya sempurna dalam melakukan misinya, tapi dengan menghalalkan berbagai cara. Sehingga bad leaders ini tidak memikirkan nilai-nilai yang didapatkan, hanya fokus pada semangat untuk selalu mencapai target, bagaimanapun caranya.

Banyak pemimpin sekarang yang ingin selalu dituruti dan enggan medengarkan “suara-suara” dari bawahannya. Bad leaders selalu ingin menguatkan lingkaran kekuasaannya, dengan mengharap loyalitas dari bawahannya. Hal ini yang terkadang membuat para bawahannya menjadi ketularan menjadi bad leader, sehingga tidak lagi ada generasi pemimpin yang di impian banyak orang, yaitu good leader. Karena bad leaders cenderung melahirkan banyak bad followers.Bad leaders biasanya hanya memikirkan target dan capaikan prestasi organisasi atau kepanitiaannya, jarang sekali menjaga hubungan pribadi dengan bawahannya. Ia selalu terfokus agar organisasi atau kepanitiaannya mencapai target yang diinginkan, sampai jadi kelewat ambisius dan marah-marah terus sama anggota tim. Seharusnya pemimpin yang baik itu juga harus mikirin kepuasan dan kebahagiaan para anggota tim. Mereka manusia, lho, bukan robot. Coba rutin dengarkan curhatan mereka. Ingat, karakter utama pemimpin hebat adalah sangat menghargai orang-orang yang mereka pimpin.

Bad leaders juga senang mencuri perhatian dan pujian untuk dirinya sendiri, bahkan pujian yang bukan jadi haknya. Misalnya nih, kamu adalah ketua kepanitiaan di kampus, dan bagian divisi Dana Usaha kamu sukses melakukan fundraising. Ketika ada orang yang memuji, kamu bilang bahwa fundraising tersebut adalah hasil ide dan usaha kamu, padahal bukan! Duh, gimana gitu. Orang seperti ini adalah bad leaders yang seharusnya tak layak jadi pemimpin.Hal itu seharusnya tidak menjadi ciri pemimpin saat ini, seperti yang dikatakan oleh Jamil Azzaini, bahwa harus ada pendidikan, ada transfer value, knowledge, dan attitude serta peningkatan kemampuan leadership para follower-nya  yang dilakukan secara terencana, sehingga melahirkan good leaders bukan bad leaders.

 

Oleh: Abd Jalil (Mahasiswa UI, Penerima Beasiswa Dhuafa Berprestasi LAZ Al Hakim SUCOFINDO)

 

(Visited 115 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.