Rajin Ibadah dan Berilmu, Tapi Akhlak Tidak Indah

AASAUDARAKU. Pernah ada sebuah pertanyaan menarik. Mengapa ada sebagian orang yang rajin beribadah di masjid, atau pun rajin mencari ilmu agama bahkan sebagiannya menyampaikan ilmu, tetapi sikap dan perilakunya tidak seindah ibadah atau ilmu yang dimilikinya?

Misalnya ada suami yang rajin salat dan saum, tapi rajin pula berbuat dosa. Ada yang berjilbab bagus dan lebar, tapi kelakuannya masih berghibah, fitnah, juga mencuri. Ada ibu yang rajin pergi ke majelis taklim, tapi sepertinya tetap tidak membaik akhlaknya. Atau, kata anaknya, “Bapak saya kalau berdebat tentang dalil luar biasa, tapi emosional.”

Contoh lain, ada yang suka berceramah tapi sikapnya jauh dari apa yang diceramahkan. Atau seperti ada yang bilang, “Dia itu ustaz tapi kok suka maksiat!” Ada juga yang akrab dengan al-Quran, bahkan hafal sebagian al-Quran, tapi terus saja melakukan hal-hal yang sudah diperingatkan di dalam al-Quran.

Juga ada yang dekat dengan ulama atau tinggal di pesantren bertahun-tahun, tapi akhlaknya tetap tidak membaik. Pergi ke pengajian seperti makan obat (tiga kali sehari), dekat dengan sumber ilmu dan dekat dengan masjid, tapi tetap saja tidak jujur. Atau, malah ada yang menjadi pengurus masjid sekaligus menjadi pencuri uang masjid.

Nah, terus terang Aategang membahas persoalan ini. Sebab saat membahasnya,Aa juga sambil memikirkan kelakuan Aa sendiri. Tetapi karena hal ini amat penting bagi masing-masing diri kita, mari kita coba melihat tiga hal yang menyebabkannya.

Pertama, hatinya memang cinta dunia. Sehingga ilmu agama dan ibadahnya itu untuk mendapatkan dunia yang ia inginkan. Rajinnya beribadah atau mencari ilmu bukan untuk mencari kedudukan di sisi Allah SWT, tapi untuk mencari kedudukan di depan orang/makhluk.

Seperti yang rajin ibadah di hatinya ingin dianggap saleh atau salehah, dipuji sebagai ahli masjid, dikagumi sebagai aktivis pengajian, hijabers dan sorbanbers. Demikian dengan yang rajin mencari ilmu, karena di hatinya ingin dianggap sebagai orang yang paham agama, mendapat gelar sarjana keagamaan, dipanggil ustaz atau ustazah, hafiz dan hafizah, dan sebagainya.

Ibadah dan ilmu yang diupayakan tidak ada urusan dengan ridhoAllah SWT, tapi untuk mencari kedudukan di sisi makhluk. Di hatinya adalah pencari dunia dengan amalan akhirat. Padahal Allah sudah pasti mengetahui. “Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS. al-Mulk [67]: 13)

Kalau kita bersungguh-sungguh dalam beribadah dan mencari ilmu untuk meraih ridho-Nya, maka Allah sudah berjanji dalam surat al-Ankabt [29] ayat 69,“Dan orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridhoan Kami, Kami akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”Kalau Allah sudah menuntun kita, ilmu dan ibadah pun akan berbuah akhlak yang baik.

Oleh sebab itu, saudaraku, mari kita berhati-hati. Jangan mudah merasa senang disebut ustaz, ustazah, saleh, salehah, dan sebagainya. Misalkan ada yang dipanggil hafiz atau hafizah, langsung berkembang biak hidungnya (bangga). Yang begini sudah cinta dunia namanya. Padahal Allah mengetahui kalau dia tidak hafal semuanya. Dari yang dihafal sebagiannya juga sudah lupa, sedang yang masih hafal belum diamalkan.

Seharusnya ketika dipanggil hafiz atau hafizah, kita malu luar biasa di hadapan Allah SWT. Bukan sebaliknya, malah merasa puas dengan sebutan itu. Hal ini bukan berarti tidak boleh dipanggil hafiz atau hafizah. Tetapi jangan sampai kita termakan olehnya, sehingga sebutan hafiz atau hafizah menjadi tujuan menghafal al-Quran.

Kedua, merasa mengamalkan dengan mengetahui. Maksudnya seakan-akan kita sudah mengamalkan ketika tahu ilmunya. Misal ada yang tahu ilmu tentang sedekah, lalu ia mengajak orang-orang, “Ayo dong sedekah!” Bahkan sampai berkeliling mengumpulkan, tapi ia sendiri tidak bersedekah. Iamerasa sudah beramal dengan ilmunya.

Saudaraku. Sekarang ini, yang begini amatlah banyak. Seperti ada yang langsung merasa saleh setelah lulus pesantren. Atau, lulus IAIN maupun sekolah sarjana agama Islam lainnya, yang dengan pengetahuan agamanya selama kuliah tiba-tiba merasa berbeda dengan yang bukan sarjana agama. Padahal titel “sarjana agama” itu menurut kampus, santri itu menurut pesantren, sedangkan dalam pandangan Allah SWT berbeda lagi urusannya.

Kita harus berhati-hati dengan penyebab kedua ini. Kita kadang merasa sudah beramal dengan tahu ilmunya, padahal inilah titik lemahnya. Bahwa iman itu baru menguat kalau ilmu diamalkan. Ilmu yang diketahui harus kita mujahadahkan untuk diamalkan. Bila tidak, jadilah kita orang yang berilmu dan ibadahnya sepertinya rajin, tapi akhlaknya buruk.

Contoh, setelah kita mendapat hadis tentang senyum, mujahadahkanlah senyum kita. Saat dapat hadis tentang menahan amarah akan diberi surga, maka tahan dan kendalikan amarah kita dari hari ke hari. Jangan malah setelah membaca tulisanini misalnya, saudara berkata, “Benar Aa, tapi kini saya sudah saleh sungguhan dibanding mereka yang belum membaca ini.” Padahal mujahadahnya saja belum.

Mujahadah itu kesungguhan kita untuk mengamalkan. Misalkan kita punya ponselyang ada internetnya, dan suka dipakai untuk melihat pornografi. Maka mujahadahnya adalah tidak usah lagi membeli kuota internet, atau sekalian ponseldiganti dengan yang tidak ada internetnya sampai sudah disiplin tidak membuka yang begitu. Di samping melatih diri untuk lebih rajin pergi ke masjid. Bukan mujahadah kalau hanya tobat, tapi fasilitas yang bisa dipakai maksiat tetap kita siapkan sehingga bisa kembali mencari peluang.

Jadi, saudaraku. Ayo kita bermujahadah untuk mengamalkan ilmu yang didapat. Kurang mujahadah mengamalkan ilmu akan membikin mendadak merasa saleh dengan gelar atau ilmu yang diketahui. Sehingga akhlak pun memburuk, berbanding terbalik dengan ilmu yang dimiliki.

Yang ketiga, ujub. Ujub merupakan faktor yang paling fatal. Sebagaimana sabda Rasulullah saw dalam hadis riwayat Imam ath-Thabrani, bahwa ada tiga hal yang membinasakan, yaitu,“Satu, kekikiran yang dituruti; dua, nafsu yang diperturutkan; dan yang ketiga adalah ujub.”

Dalam hadis riwayat Imam al-Baihaqi, Rasulullah saw juga mengingatkan bahwa bagi orang yang berharap ampunan Allah SWT, maka dia akan mendapat rahmat-Nya. Tetapi bagi orang yang ujub, dia akan mendapat murka-Nya.

Terkait pembahasan di sini, misalkan saat kita pergi salat ke masjid dan dalam perjalanan hati merasa berbeda melihat rombongan tetangga yang belum mau ke masjid. Lalu dalam hati, “Ya, Allah, ampunilah mereka, berilah mereka hidayah dan taufik-Mu.” Padahal Allah mengetahui kalau kita sendiri di masjid tidak ingat kepada-Nya, salat kita tidak khusyuk, ngaco, dan tidak ingat apa-apa pada yang sedang dibaca oleh imam salat.

Atau, saat salat tahajud. Misalnya sedang itikaf di masjid, lalu pukul dua dia bangun dan melihat yang lain masih tertidur. Dia pun senang sambil berharap yang lain kesiangan semua. Dia tidak mau ada yang bangun salat tahajud menyainginya, karena dia ingin saleh tunggal. Hatinya yang sudah bermain itulah ujub.

Demikian dengan yang berilmu. Dengan ilmunya dia melihat orang lain bodoh semua. “Yang ini sesat, yang ini bidah! Kasihan, mereka yang bodoh-bodoh ini akhirnya juga harus masuk neraka.” Padahal ilmu itu tidak ada apa-apanya bila tidak berbuah akhlakul kharimah. Ilmu tidak ada artinya bila tidak berbuah takut kepada Allah, Pemilik segala-galanya.

Orang yang ujub itu tidak nyaman dengan dirinya sendiri. Sehingga omongannya juga cenderung tidak nyaman. Walaupun berdakwah, dengan ketidaknyamanannya dia akan menumpahkan nafsu dalam kata-katanya. Orang yang mendengarkan pun tidak nyaman, kecuali yang penyakitnya sama.

Dalam berdakwah ada ujubnya sendiri. Seperti ada yang merasa seakan-akan jadi mulia dengan banyaknya jemaah yang datang. Padahal belum tentu, karena konser-konser musik malah sampai puluhan dan ratusan ribu penontonnya. Sangat bisa jadi ulama yang santrinya hanya dua orang, derajatnya tinggi sekali di sisi Allah. Disebabkan ulama itu ikhlas, hanya mengharap ridho-Nya.

Sebagaimana dalam sebuah hadits qudsi disebutkan tentang orang yang terbunuh di medan juang dan merasa dirinya berjihad. Tetapi tidak diterima oleh Allah, karena hatinya ingin disebut pejuang atau pahlawan. Begitu dengan yang berdakwah ataupun yang hafal al-Quran. Dakwah dan hafalannya tidak diterima Allah, tapi malah jadi ahli neraka. Karena hatinya ingin disebut hafiz atau hafizah yang mengesankan, atau ustaz keren yang menggetarkan jiwa yang tabligh akbarnya dipenuhi lautan manusia.

Nah, saudaraku. Demikian tiga hal yang menyebabkan ada yang rajin beribadah atau berilmu, tapi akhlaknya tetap tidak indah. Semuanya itu karena memang bukan Allah yang menjadi tujuan ia beribadah dan mencari ilmu. Tanpa menjadikan Allah sebagai tujuan, mau seberapa banyak ilmunya dan seberapa rajin pun ibadahnya, akhlaknya tetap tidak berubah.

Walaupun hebat dakwahnya atau lancar hafalan al-Qurannya, kelakuannya tetap tidak sesuai dengan yang diucapkan. Walau puluhan tahun tinggal di pesantren, jadi pengurus masjid, atau ikut pengajian, tetap saja pembohong, mencuri, suka berghibah dan maksiat. Walau seumur hidup jadi pengurus zakat, atau penulis dan penyetak anjuran sedekah, infakdan wakaf, tapi tetap pelit dan berhati miskin. Karena tujuannya memang bukan meraih ridho Allah.

Bila Allah yang menjadi tujuan, yang dicari pasti kedudukan di sisi-Nya. Betapa dunia sudah tidak menarik. Yang dirindukan adalah ampunan dan rahmat-Nya. Penuh harap bisa pulang khusnul khatimah, dan bisa bertemu dengan-Nya di akhirat. Kalau Allah sudah memenuhi hati, yakinlah bahwa hidup pasti dituntun oleh Pencipta, Penguasa lagi Penentu segala-galanya.

Jadi, setelah membaca tulisanini, mari periksa hati kita masing-masing. Sudah benarkah tujuan kita dalam beribadah dan mencari ilmu selama ini? Benarkah Allah SWT yang menjadi tujuan hidup kita?

 

Abdullah Gymnastiar

(Visited 69 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.