Adab Musyawarah dalam Islam

RAPATMusyawarah atau syura adalah kegiatan yang amat sangat penting dan strategis bagi kehidupan manusia sebagai makhluk sosial.  Karenanya secara khusus, Islam mengaturnya.

Syura merupakan salah satu hal yang penting dan diatur dalam syari’at dan ketentuan hukum dalam Islam” [Al Muharrar al-Wajiz]. Allah ta’ala mewajibkan hamba-Nya untuk selalu mencari solusi dalam berbagai persoalan dimana membutuhkan kebersamaan pikiran dengan orang lain.

Dalam musyawarah sendiri perbincangan harus dua arah atau lebih. Jika hanya ada satu pihak saja yang mengeluarkan pendapat dan berbicara maka tidak bisa dinamakan syura. Oleh karenanya syura memiliki aturan dan tata tertib serta adab-adab yang wajib dipatuhi sesuai yang ditetapkan di dalam Islam.

Berikut adalah beberapa adab-adab atau tata tertib musyawarah menurut Islam :

Pertama, niatkan musyawarah untuk mencari dan menegakkan kebenaran karena Allah. Sebaiknya masing-masing mempunyai rasa takut pada Allah, kalau-kalau terjadi perbincangan yang tidak tepat dan tidak selaras dengan kehendak Allah dan Rasul.

Kedua, disunahkan melakukan doa musyawarah yang dicontohkan Rosulullah SAW yakni : Allohumma alhimni rusydi wa a’udzu min syarri nafsi (Ya Alloh berikanlah ilham/petunjuk kepada kami dan kami berlindung dari kejahatan hawa nafsu kami).

Ketiga, di waktu seorang anggota musyawarah berbicara, anggota-anggota yang lain seharusnya menghormati pandangannya dan sama-sama mendengarnya. Serta dilarang memotong pembicaraan orang lain. Sikap itu sangat dibenci.

Keempat, bila seorang anggota musyawarah selesai memberi pandangannya, ucapkan terima kasih. Kalau didapatkan ucapannya benar, beri tahniah dengan sepotong doa, “Moga-moga Allah subhanahu wa ta’ala membalas kamu dengan kebaikan.”

Kelima, sekiranya pendapat yang diberi salah, jangan sekali-kali menghina. Betulkan dengan mesra dan kasih sayang menggunakan hujah-hujah yang bernash/dalil.

Keenam, jika terjadi perbedaan pendapat yang serius hingga sukar untuk menyatukan pandangan, maka demi perpaduan, pandangan ketua atau pemimpinlah yang mesti diterima.

Ketujuh, bila peserta musyawarah ingin melakukan hajat (ada urusan pribadi ke toilet sekalipun) harus izin kepada pemimpin musyawarah : misal dengan mengangkat jari telunjuk.

Kedelapan, dalam musyawarah Islam jangan sekalipun terjadi mujadalah, berburuk sangka, sakit hati, caci maki, berkelahi, geram, dendam dan sebagainya. Anggota-anggota syura akan sanggup untuk mengalah, bersabar untuk mencari nash (dalil) atau bersikap tawakuf (menerima tidak, menolak pun tidak). Bahkan demi menjaga ukhuwah karena Allah, di akhir majelis, masing-masing akan saling bermaaf-maafan dan berbaik sangka serta bersabar untuk menanti bantuan Allah dalam masalah apapun yang timbul.

Kesembilan, di penutupnya, sama-sama membaca surat “Wal ‘Ashr” dan doa kifarah, yakni meminta ampun kepada Allah. InsyaAllah dengan cara itu, umat Islam akan senantiasa membuat keputusan yang tepat, bersih dan diberkahi Allah ta’ala.

Selain tata tertib, ada hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu menghadiri musyawarah bila diundang, berpenampilan syar’i, datang tepat waktu, dan jika terlambat alangkah baiknya memberitahukan atau menginformasikan kepada pimpinan syura, menjaga pergaulan ikhwan dan akhwat, menjaga pandangan dan tidak berikhtilat.

Terhadap hasil keputusan musyawarah, maka sudah semestinya kita harus berlapang dada, bagi yang tidak hadir dalam syura berkewajiban untuk mengetahui hasil keputusan syura dan melaksanakan dengan sebaik-baiknya. Kemudian hal penting lainnya yaitu tidak makan atau minum saat berbicara, menggunakan kata-kata yang ahsan, tdak diperkenankan bercanda dan tertawa yang berlebihan saat pelaksanaan syura.

Sumber : https://suaramuslim.net/ed

(Visited 204 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.