Cara Mudah Mengenali dan Memahami Riba

COIN

Riba. Apa itu riba? Riba secara bahasa artinya adalah bertambah dan tumbuh (zaada wa namaa). Sedangkan dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 1 Thaun 2004 disebutkan bahwa riba adalah tambahan (ziyadah) yang terjadi karena penangguhan dalam pembayaran yang diperjanjikan sebelumnya.

“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Muslim, no. 1584)

Lalu, bagaimana memahami riba secara sederhana? Sebetulnya cukup mudah. Ada suatu kaidah umum yang telah disepakati oleh ulama, yaitu :

“Setiap utang piutang yang ditarik manfaat di dalamnya, maka itu adalah RIBA.”

(Diriwayatkan oleh Al Harits bin Abi Usamah. Sanadnya terputus sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram. Meski hadits di atas sifatnya adalah dha’if (lemah) namun kandungannya adalah benar karena dikuatkan oleh kata sepakat para ulama.

 

Riba sudah jelas keharamannya, di mana dapat kita temukan secara jelas larangannya di dalam Al Qur’an, Al Hadits dan juga berdasarkan kesepakatan para ulama yang telah dengan jelas melarang salah satu bentuk dosa besar ini.

  1. Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُّضَاعَفَةً ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ – 3:130

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Ali ‘Imran / 3 : 130)

  1. Rasulullah bersabda :

Dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu ia berkata bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang memakan (mengambil) riba, memberikan, menuliskan, dan dua orang yang menyaksikannya.” Ia berkata: “Mereka berstatus hukum sama.” (HR. Muslim)

  1. Kesepakatan ulama :

Ijma’ ulama tentang keharaman riba dan bahwa riba adalah salah satu dosa besar (kaba’ir). Dapat dilihat antara lain: al-Nawawi, al-Majmu’Syarh al-Muhadzadzab, [t.t.: Dar al- Fikr, t.th.], juz 9, h. 391.

 

Salah satu bentuk riba yang sangat umum dijumpai pada kehidupan ekonomi saat ini adalah Bunga Bank. Di mana definisi bunga (interest/fa’idah) masih berdasarkan fatwa MUI No. 1 Tahun 2004 adalah tambahan yang dikenakan dalam transaksi pinjaman uang (al-qardh) yang diperhitungkan dari pokok pinjaman tanpa mempertimbangkan pemanfaatan/hasil pokok tersebut, berdasarkan tempo waktu, diperhitungkan secara pasti di muka, dan pada umumnya berdasarkan persentase.

Namun seiring berkembangnya zaman, bentuk riba kini telah bermacam-macam, dan terkadang agak sulit membedakan muamalah yang halal dengan riba. Berikut ini terdapat beberapa poin atau kaidah yang dapat membantu dalam mengenali dan memahami transaksi riba yang sangat mungkin dijumpai dalam aktivitas sehari-hari.

  1. Utang yang dianakkan atau dikembangbiakkan, termasuk riba.

Contoh:

Pinjam uang 1 juta rupiah, mesti dicicil 100 ribu tiap bulan, hingga totalnya 1.200.000 rupiah.

 

  1. Tambahan dari transaksi hutang, sebagai ganti karena adanya penundaan waktu pembayaran adalah riba.

Contoh:

Kita kredit rumah selama 5 tahun sebesar 400 juta. Namun karena kita tidak bisa melunasinya selama waktu 5 tahun, developer secara sepihak merubah transaksinya. Waktu diberi kelonggaran hingga 10 tahun, namun harga bertambah menjadi 600 juta. Sebagai kompensasi atas penundaan pembayaran yang kita lakukan.

 

  1. Semua hutang yang menghasilkan manfaat (apapun bentuknya), statusnya adalah riba.

Contoh:

Kita menghutangi tukang angkot, akibat bantuan yang kita berikan itu, setiap kali kita pergi memakai jasa angkot tersebut kita tidak dikenakan biaya, maka jalan yang lebih selamat adalah menolaknya. Karena ini berupa manfaat yang didapat akibat kita menghutangi tukang angkot.

 

  1. Riba tetap tidak boleh, baik jumlah sedikit maupun banyak.

Contoh:

Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang merupakan program bantuan permodalan dari pemerintah yang bunganya kecil, hanya 9% per tahun, tetap merupakan riba. Riba adalah haram dan harus dihindari.

 

  1. Tidak diperkenankan ada kenaikan harga pada transaksi hutang piutang.

Contoh:

Kita di tahun 2000 menghutangi teman kita 50 juta, hingga di tahun 2018, nilai uang kita tersebut menyusut jauh. Namun faktor inflasi tidak dapat dijadikan alasan bagi kita untuk menambah nilai utang.

Apabila kita ingin memberikan pinjaman kepada teman dalam jumlah yang besar dan dalam waktu yang lama, salah satu solusinya adalah memberikan pinjaman dalam bentuk emas, yang mana pembayarannya juga berbentuk emas.

 

  1. Riba berlaku untuk semua jenis mata uang.

Contoh:

Ada yang berpendapat riba hanya berlaku untuk uang kartal (uang logam dan kertas), tapi tidak berlaku pada dinar dan dirham, hal ini tidaklah benar. Tidak ada syariat Islam yang menentukan riba hanya berlaku untuk mata uang tertentu.

 

  1. Saling ridha, tidak diperhitungkan dalam Riba.

Contoh:

Koperasi-koperasi RT atau rombongan yang ada simpan pinjam berbunganya. Meski hanya dengan memberi tambahan seikhlasnya tetaplah riba. Saling ridha satu sama lain tidak merubah kaidah keharaman riba. Seperti halnya berzina yang dilakukan karena saling ridha, tidak merubah status perkaranya menjadi halal untuk dilakukan.

 

  1. Tidak boleh mengajukan syarat tambahan, yang menguntungkan pihak pemberi hutang.

Contoh:

– Saya berkenan meminjamkan uang saya, dengan syarat motormu saya pakai.

– Kita memberikan hutang kepada nelayan, tapi dengan syarat hasil ikan tangkapan nelayan harus dijual kepada kita.

 

  1. Kredit dengan melibatkan pihak ketiga memiliki kemungkinan besar merupakan transaksi riba.

Contoh:

Jual beli motor kredit, transaksinya dengan dealer, pelunasan pada leasing. Di mana akad transaksinya pun mengandung riba.

leasing

 

  1. Pengelabuan atau akal-akalan dalam riba tetap tidak diperbolehkan.

Contoh:

Pemilik tanah ingin dipinjami uang oleh si miskin. Karena saat itu ia belum punya uang tunai, si empunya tanah katakan pada si miskin, “Saya jual tanah ini kepadamu secara kredit sebesar 200 juta dengan pelunasan sampai dua tahun ke depan”. Sebulan setelah itu, si empunya tanah katakan pada si miskin, “Saat ini saya membeli tanah itu lagi dengan harga 170 juta secara tunai.”

 

Demikianlah beberapa kaidah dan cara-cara untuk lebih mengenali dan memahami riba. Semoga Allah menjauhkan kita semua dari riba dan bentuk dosa-dosa besar lainnya.

Ya Allah cukupkanlah kami dengan yang halal dan jauhkanlah kami dari yang haram, dan cukupkanlah kami dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu. Aamiin..yaa rabbal ‘alamiin. Sumber artikel : Rumaysho dengan penyesuaian.

Wallahu a’lam.

.

(Visited 134 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.