Menyambut Kematian Dengan Keimanan

Rasulallah  ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ

Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian (HR.Ibnu Majah, Tirmizi, Nasai).

Rasulallah  ﷺ dan para sahabat adalah manusia dengan keimanan yang tinggi dan generasi terbaik, mereka manusia-manusia yang telah dijamin masuk surga oleh Allah, namun mereka tetap menggunakan waktunya dengan sebaik mungkin untuk memperbanyak amal serta berjihad dijalan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَال .Mereka mempersiapkan diri untuk bekal kematian dengan amal shalih dan keimanan yang tinggi. Tenaga, harta dan bahkan jiwa mereka pertaruhkan untuk kemuliaan Islam.

Seorang Imam bertanya kepada murid-muridnya, apa sesungguhnya yang paling jauh menurut kalian? Masing-masing murid menjawab salah satu tempat, ada yang menyebut salah satu planet dan bermacam-macam jawaban. Setelah semua muridnya menyampaikan jawaban mereka, sang Imam pun berkomentar: “Benar, semua yang kalian sebut itu adalah jauh dari kita, tetapi tahukah kalian ada yang lebih jauh dari semua itu, bahkan semua manusia tidak mungkin bisa mencapainya”. Tampak murid – muridnya saling lihat antara satu dan yang lainnya sebagai ekspresi kebingungan. Sang Imam meneruskan penjelasannya, “Yaitu waktu yang telah kita lewati, kita tidak akan pernah bisa kembali kepada waktu yang telah kita lewati.

Allah  سُبْحَانَهُ وَ تَعَال  berfirman:

كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوۡنَ أُجُورَكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۖ فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَۗ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ ١٨٥

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS Al – Imran:185).

Sesungguhnya lima menit yang lalu bahkan satu detik yang baru saja. Anda lalai ketika anda melangkahkan kaki menuju masjid ini lebih jauh jaraknya (karena kita tidak akan bisa kembali lagi kepadanya) dari kematian yang terus akan mendekati dan mendatangi anda. Hidup di dunia bagaikan masa tanam, dan hasil panennya nanti dinikmati setelah meninggal. Belajarlah pada petani yang semangat menanam dan memelihara tanamannya dengan hati-hati dan antusias, baik cinta dengan pekerjaannya maupun membayangkan datangnya waktu panen. Jika harapan dan ramalan petani hasil panennya adakalanya meleset dan mengecewakan, mungkin akibat hama atau rusak akibat bencana alam atau banjir, maka hisab di akhirat bersifat mutlak. Siapa menanam kebajikan di dunia akan memanen hasilnya di akhirat dan siapa menanam keburukan maka akan memanen kesengsaraan. Al-Qur’an memberikan ilustrasi orang-orang yang durhaka dan mengingkari nikmat Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, ketika maut telah datang baru muncul penyesalan dan memohon kepada Allah agar dikembalikan lagi ke dunia untuk berbuat kebajikan karena selama hidupnya lebih banyak berbuat kejahatan

(QS Al – Mukminun (23): 99-100).

حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلۡمَوۡتُ قَالَ رَبِّ ٱرۡجِعُونِ ٩٩ لَعَلِّيٓ أَعۡمَلُ صَٰلِحٗا فِيمَا تَرَكۡتُۚ كَلَّآۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَاۖ وَمِن وَرَآئِهِم بَرۡزَخٌ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ ١٠٠

Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu, hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia)

Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan

Sungguh sangat menyejukkan menerungkan sifat Allah yang maha kasih, Allah سُبْحَانَه و تَعَالَى telah menetapkan, jika hamba-Nya berniat melakukan keburukan, para malaikat tidak akan mencatatnya sebagai sebuah keburukan sampai ia melakukannya. Dan sebaliknya jika hamba-Nya berniat melakukan kebaikan dan ia tidak melakukannya, maka hal itu sudah suatu amal kebaikan. Jika hamba-Nya melakukan keburukan, maka dosanya sebesar keburukan yang dilakukannya, tetapi jika jika hamba-Nya melakukan suatu kebaikan, maka baginya balasan yang berlipat ganda sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Dan apabila seseorang mengurungkan niat buruknya, maka itu ditulis berupa satu kebaikan.

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى  berfirman :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ٦٠

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina

Barangsiapa memohon pertolongan dan ampunan pada Allah سُبْحَانَ وَ تَعَالَى dengan sungguh – sungguh, khususnya diwaktu malam saat orang lain tidur, maka Allah malu untuk tidak mengabulkan permintaan hamba-Nya. Allah   سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى  tidak tega melihat hamba-Nya pulang dengan tangan kosong, seperti orang tua yang tidak sampai hati menolak permintaan anak-anaknya sekalipun sekali waktu anak menyakiti perasaan.

Ada juga pandangan, hidup bagaikan rekreasi dan berbelanja untuk bekal yang dinikmati di kampung akhirat nanti. Nikmati perjalanan hidup bersama-sama teman yang shalih, anak dan istri yang taat pada Allah   سُبْحَانَهُ وَ تَعَال   yang saling mendoakan serta membantu dalam ketaatan pada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى . Allah  سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengajarkan pada kita agar selalu berusaha memperberat timbangan kebaikan dari timbangan keburukan, agar kita menutup rekaman kehidupan dengan amal kebaikan.

Setiap kita berjalan menuju kematian, masing-masing kita sudah memiliki nomor urut. Namun jalan dan penyebab menuju kematian masih diberi ruang pilihan oleh Allah  سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى apakah jalan yang mulus dengan didampingi amal shalih atau jalan terjal dengan himpitan rekaman keburukan. Yang berlalu tidak akan kembali untuk selamanya, yang di depan masih tersisa untuk kita berbuat kebaikan dan mengumpulkan bekal amal shalih sebanyak mungkin.

Wallahu a’lam.

(Visited 123 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.