Untuk Apa Waktumu Dihabiskan?

Pembahasan masalah waktu atau umur, merupakan pembahasan yang penting. Karena waktu atau umur ini merupakan ra’sul maal (modal), waktu merupakan kehidupan dan jika seseorang tidak memanfaatkan modal ini dengan sebaik-baiknya maka ia akan merugi. Tinggal bagaimana kita menggunakannya, apakah untuk kebaikan, beramal shalih, ketaatan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَال atau untuk melakukan maksiat serta perbuatan sia – sia.

Allah  سُبْحَانَهُ وَ تَعَال  berfirman:

وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS.Al – Asr:1-3).

Di dalam ayat ini Allah  سُبْحَانَهُ وَ تَعَال bersumpah dengan waktu dan menjelaskan bahwa semua manusia merugi. Kemudian Allah mengecualikan bahwa orang-orang yang tidak merugi atau orang-orang yang beruntung dan bahagia adalah:

  1. Orang-orang yang menggunakan waktunya dengan hal-hal yang bermanfaat.
  2. Orang-orang yang beriman kepada Allah dengan keimanan yang benar.
  3. Orang-orang yang melaksanakan amal-amal shalih dengan ikhlas karena Allah dan ittiba’ (mengikuti) Rasulallah ﷺ.
  4. Orang-orang yang saling menasihati dengan kebenaran.
  5. Orang-orang yang senantiasa saling menasihati dengan kesabaran.

Surat Al – Asr ini pendek namun maknanya sangat luas, surat ini sebagai hujjah untuk manusia. Imam syafi’i   رَحِمَهُ اللهُ  (wafat th 204 H) berkata, “Seandainya manusia mencermati surat ini secara seksama, niscaya surat ini sudah mencukupi mereka”. (Tafsir ibnu katsir (VIII/479),cet Daar. thaybah)

Kita diciptakan oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana Firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَال :

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”(QS Adh dhariyat:56).

Jadi waktu kita didalam hidup didunia ini diperintahkan untuk oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَال untuk beribadah kepada-Nya. Kita harus meluangkan waktu dan menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk beribadah kepada Allah  سُبْحَانَهُ وَ تَعَال dan kita diciptakan oleh Allah tidak sia-sia. Ketika orang kafir menyangka bahwa mereka diciptakan hanya untuk bermain-main, bersendau gurau dan tidak akan dikembalikan kepada Allah, maka Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَال berfirman:

أَفَحَسِبۡتُمۡ أَنَّمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ عَبَثٗا وَأَنَّكُمۡ إِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُونَ ١١٥

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami”. (QS.Al Mukminun: 115).

Kita diciptakan oleh Allah untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban kepada Allah dan melaksanakan kewajiban-kewajiban kepada makhluk. Allah juga memberikan umur kepada manusia sebagai peringatan kepada mereka, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَال berfirman:

وَهُمۡ يَصۡطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا نَعۡمَلۡ صَٰلِحًا غَيۡرَ ٱلَّذِي كُنَّا نَعۡمَلُۚ أَوَ لَمۡ نُعَمِّرۡكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَآءَكُمُ ٱلنَّذِيرُ- ٣٧

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?……” (QS. Fathir:37).

Sebagian ulama menjelaskan bahwa umur yang diberikan kepada mereka adalah empat puluh tahun, dan sebagian ulama lagi mengatakan enam puluh tahun, Rasulallah ﷺ bersabda:

أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَّغَهُ سِتِّينَ سَنَة

Allah memberikan udzur kepada seseorang sampai Allah akhirkan ajalnya sampai 60 tahun”.( HR.Bukhari).

Dan memang umur Nabi Muhammad ﷺ antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan sedikit sekali yang bisa lebih dari itu berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

umur ummatku antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun. Dan sedikit dari mereka yang melebihi itu” (HR.Ibnu Majah).

Artinya bahwa Allah sudah memberikan peringatan hingga empat puluh tahun kepada orang tersebut dan mestinya sudah cukup untuk menyadari bahwa manusia akan mati dan akan kembali kepada Allah. Oleh karena itu para ulama mengatakan bahwa jika seseorang telah berumur lebih dari empat puluh tahun atau sudah lebih dari lima puluh tahun akan tetapi tidak ada perubahan dalam hidupnya, kemungkinan sudah sulit bagi orang tersebut untuk bertaubat kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَال. Allah sudah memberikan peringatan agar mereka kembali ke jalan yang benar, yang dengan peringatan-peringatan tersebut mereka akan taubat kepada Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tidak kembali ke jalan yang benar dan tidak bertaubat kepada Allah  سُبْحَانَهُ وَ تَعَال.

Setiap umur yang kita lewati, pada hakikatnya tidak bertambah melainkan umur kita berkurang. Jika kita memiliki umur enam puluh tahun, dan saat ini kita sedang berumur lima puluh tahun, maka waktu kita di dunia tersisa sepuluh tahun lagi. Mestinya hal seperti ini menjadi peringatan kepada kita bahwa ajal kita sudah dekat, meskipun ajal tersebut tidak ada satupun orang yang tahu.

Allah   سُبْحَانَهُ وَ تَعَال   berfirman:

 وَمَن نُّعَمِّرۡهُ نُنَكِّسۡهُ فِي ٱلۡخَلۡقِۚ أَفَلَا يَعۡقِلُونَ ٦٨

Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan” (QS Yasin:68).

Sebagai perumpamaannya, kita berjalan dari kota Makkah ke kota Madinah berjarak 400 Km (empat ratus kilo meter), dan sudah mencapai 300 Km (tiga ratus kilo meter), jadi kita sudah menyadari bahwa jarak tempuh kita tinggal 100 km (seratus kilo meter) lagi. Sisanya tersebut seharusnya jadi peringatan buat kita, sehingga kita bisa selamat sampai tujuan dengan sisa yang 100 Km (seratus kilo meter) tersebut.

Begitu juga dengan umur kita, kalau sudah empat puluh tahun atau lima puluh tahun berarti peringatan sudah dekat, dan seharusnya kita kembali kepada Allah  سُبْحَانَهُ وَ تَعَال dengan menuntut ilmu syar’i, Al Qur’an dan As-Sunnah menurut pemahaman salafush shahih, menunaikan kewajiban, bertaubat nashuha, taubat yang ikhlas, jujur, benar, amanah, serta mengerjakan amalan-amalan shalih dengan ikhlas dan ittiba pada tuntunan Rasulallah  ﷺ.

Wallahu a’lam.


[1] Tafsir ibnu katsir (VIII/479),cet Daar.  thaybah.

(Visited 108 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.