Perspektif Ibadah Qurban

Qurban merupakan salah satu ibadah yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Orang yang melakukan ibadah qurban disebut dengan muqarrib, di mana Nabi Muhammad ﷺ bersabda : “Orang yang mendatangi sholat Jum’at di awal waktu seperti orang yang bertaqarrub dengan qurban” (HR. Ahmad: 10490).

Penyaluran Qurban

Pengertian qurban secara bahasa, tidak selalu identik dengan binatang, melainkan dapat juga diartikan sebagai bentuk amal ketaatan secara keseluruhan, yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah ﷻ . Karena intinya adalah pendekatan (taqarrub), maka qurban pada dasarnya dapat dilakukan melalui segala macam ibadah secara umum baik ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah. Seperti halnya ibadah puasa, zakat, haji, sedekah dan ibadah maliyah lainnya, karena memang sifat ibadah adalah mendekatkan diri (taqarrub ilallah). Hanya saja, binatang sembelihan merupakan ciri khas wasilah taqarrub ummat terdahulu.

Selain memiliki makna berbeda dari sudut sifat, maksud dan tujuan, qurban dari sudut pandang binatang memiliki artinya tersendiri. Dari sudut pandang binatang, qurban dapat diartikan sebagai persembahan (al ihdaa). Dari sisi waktu dapat diartikan penyembelihan (udlhiyyah) di waktu dhuha. Sedangkan dari sudut niat dan perbuatan dapat berarti pengorbanan (al juhd). Makna-makna di atas menunjukkan betapa luasnya pengertian qurban, meskipun qurban yang dimaksud di sini adalah sembelihan hari raya Idul Adha.

اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ

Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah). QS. Al Kautsar / 108 : 1-3

Dari sisi Tauhid, QS. Al Kautsar menunjukkan kemahamurahan Allah ﷻ membalas amal yang sedikit dengan pahala yang tidak terkira, yaitu berupa sungai di surga berupa telaga (al haudh) untuk Nabi Muhammad ﷺ dan ummat-nya, di mana balasan ibadah qurban menjadi salah satunya.

Dari sisi ibadah, surat ini meminta kita untuk bertauhid melalui dua bentuk ibadah yaitu shalat dan berkurban sebagai bentuk rasa syukur agar rezeki di dunia bertambah dan rezeki di akhirat yang akan menanti.

Dari sudut perjuangan, ibadah shalat dan qurban memang harus diperjuangkan melalui berbagai cara. Terlebih memperjuangkan dari musuh yang ada di dalam diri sendiri diantaranya adalah keengganan dan kekiran dalam shalat dan berqurban. Khususnya dalam ibadah qurban yang menuntut kita untuk benar-benar mempelajari ilmu ikhlas.

Sedangkan dari sudut syiar, dapat disimpulkan bahwa qurban merupakan amalan syiar yang memiliki begitu banyak manfaat. Pada rangkaian aktivitas berqurban, takbir dikumandangkan ke seluruh penjuru negeri ini, terdapat juga untaian doa yang selalu diperdengarkan. Dan yang terutama adalah, pembagian daging qurban yang diharapkan menjadi berkah untuk setiap penerimanya. Insyaa Allah.

Panduan Praktis Fiqh Qurban ( H. Syamsul Bahri ) dengan penyesuaian.

(Visited 6 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.