LAZ ALHAKIM SUCOFINDO https://laz-alhakim-sucofindo.org Lembaga Amil Zakat Al-Hakim Sucofindo Thu, 11 Feb 2021 07:43:37 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.1.8 Perubahan Nomor Rekening Zakat LAZ Al-Hakim SUCOFINDO https://laz-alhakim-sucofindo.org/info-al-hakim/2019/11/08/perubahan-nomor-rekening-zakat-laz-al-hakim-sucofindo.html Fri, 08 Nov 2019 06:53:50 +0000 http://laz-alhakim-sucofindo.org/?p=3332

Continue reading]]> Lembaga Amil Zakat Al-Hakim SUCOFINDO saat ini menampung dana Zakat, Infaq, Shadaqah yang dihimpun dari lingkungan PT. SUCOFINDO (Persero), tenant serta seluruh jamaah masjid Al-Hakim. Untuk kemudahan dalam bertransaksi keuangan, kami menggunakan jasa perbankan syariah dengan akad wadiah (Wadiah: titipan nasabah yang harus dijaga dan dikembalikan setiap saat nasabah yang bersangkutan menghendaki).

Dengan alasan administrasi dan telah dilaksanakannya pergantian kepengurusan LAZ Al-Hakim, saat ini LAZ Al-Hakim telah membuka rekening baru khusus penampungan dana Zakat di BNI Syariah. Rekening BNI Syariah ini merupakan rekening pengganti dari rekening Bank Muamalat yang sebelumnya menjadi rekening penampungan dana zakat LAZ Al-Hakim. Sebagai catatan, rekening Bank Muamalat belum dilakukan penutupan, namun mayoritas transaksi keuangan telah dialihkan ke rekening zakat yang baru. Terlampir informasi perubahan nomor rekening LAZ Al-Hakim sebagai berikut :

]]>
Sikap Seorang Muslim Menghadapi Bencana Kekeringan https://laz-alhakim-sucofindo.org/tsaqofah/2019/09/17/sikap-seorang-muslim-menghadapi-bencana-kekeringan.html https://laz-alhakim-sucofindo.org/tsaqofah/2019/09/17/sikap-seorang-muslim-menghadapi-bencana-kekeringan.html#respond Tue, 17 Sep 2019 07:48:58 +0000 http://laz-alhakim-sucofindo.org/?p=3162

Continue reading]]> Kekeringan merupakan kondisi kekurangan pasokan air dari curah hujan dalam jangka waktu tertentu, biasanya satu musim atau lebih, yang berakibat pada kekurangan air untuk beberapa sektor kegiatan, kelompok atau lingkungan (UNISDR, 2019).

Saat ini kekeringan merupakan salah satu bencana alam yang sedang dihadapi di sebagian besar wilayah Indonesia. Curah hujan yang rendah dan juga panas matahari yang begitu terik, membuat permukaan tanah menjadi kering. Lalu apa saja yang dapat kita lakukan sebagai umat muslim terkait keadaan bencana ini?

Yang pertama adalah berdoa, meminta kepada Dzat Yang Maha Kaya sesuai dengan kaidah yang telah disampaikan Rasulullah ﷺ. Berdoa meminta diturunkannya hujan dapat dilakukan dengan Shalat Istisqa. Istisqa artinya adalah meminta hujan, atau lebih luasnya permohonan meminta as saqa, yaitu diturunkannya hujan kepada suatu negeri atau kepada orang-orang.

Selain dengan Shalat Istisqa, salah satu cara lain meminta hujan adalah dengan memohon ampun kepada Allah ﷻ atau beristigfar, sesuai dengan firman-Nya sebagai berikut :


فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

Selanjutnya setelah berdoa dan beristigfar, kita dapat melakukan ikhtiar sebagai tindakan Prabencana yang dianjurkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) diantaranya adalah :

  • Menjaga sumber/mata air.
  • Menggunakan air dengan bijak. Seperti mengurangi pemakaian air yang berlebih, mematikan keran air ketika sedang tidak digunakan.
  • Tidak merusak hutan/kawasan cagar alam.
  • Secara kolektif membuat waduk atau embung untuk menampung air hujan dan dipergunakan saat musim kemarau.
  • Dalam konteks pertanian, memanfaatkan mulsa. Mulsa adalah material penutup tanaman budidaya untuk menjaga kelembapan tanah serta menekan pertumbuhan gulma dan penyakit sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik.
  • Memenuhi kebutuhan keluarga, membuat tandon air di sekitar pekarangan rumah untuk menampung air hujan.

Kemudian, apa tindakan yang perlu kita lakukan ketika bencana kekeringan sedang melanda seperti halnya gejala-gejala yang sedang kita rasakan saat ini? Berikut tindakan Saat Bencana yang dapat kita lakukan :

  • Melapor dan meminta bantuan air bersih kepada pihak yang berwenang.
  • Mengatur jadwal penggunaan sisa air yang masih tersedia.
  • Melaksanakan hujan buatan (pihak yang berwenang).
  • Simak informasi terkini dari media komunikasi seperti radio, televisi, media online dan sumber informasi resmi pemerintah atas keadaan bencana yang sedang terjadi.

Dan apabila Allah masih mengizinkan kita berhasil melewati bencana kekeringan ini, maka terdapat langkah-langkah yang dapat dilakukan Pasca Bencana, diantaranya :

  • Membuat sumur resapan/biopori.
  • Membuat waduk/bendungan untuk menampung air hujan.
]]> https://laz-alhakim-sucofindo.org/tsaqofah/2019/09/17/sikap-seorang-muslim-menghadapi-bencana-kekeringan.html/feed 0
Perspektif Ibadah Qurban https://laz-alhakim-sucofindo.org/tsaqofah/2019/08/10/perspektif-ibadah-qurban.html https://laz-alhakim-sucofindo.org/tsaqofah/2019/08/10/perspektif-ibadah-qurban.html#respond Sat, 10 Aug 2019 07:01:13 +0000 http://laz-alhakim-sucofindo.org/?p=3157

Continue reading]]> Qurban merupakan salah satu ibadah yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Orang yang melakukan ibadah qurban disebut dengan muqarrib, di mana Nabi Muhammad ﷺ bersabda : “Orang yang mendatangi sholat Jum’at di awal waktu seperti orang yang bertaqarrub dengan qurban” (HR. Ahmad: 10490).

Penyaluran Qurban

Pengertian qurban secara bahasa, tidak selalu identik dengan binatang, melainkan dapat juga diartikan sebagai bentuk amal ketaatan secara keseluruhan, yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah ﷻ . Karena intinya adalah pendekatan (taqarrub), maka qurban pada dasarnya dapat dilakukan melalui segala macam ibadah secara umum baik ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah. Seperti halnya ibadah puasa, zakat, haji, sedekah dan ibadah maliyah lainnya, karena memang sifat ibadah adalah mendekatkan diri (taqarrub ilallah). Hanya saja, binatang sembelihan merupakan ciri khas wasilah taqarrub ummat terdahulu.

Selain memiliki makna berbeda dari sudut sifat, maksud dan tujuan, qurban dari sudut pandang binatang memiliki artinya tersendiri. Dari sudut pandang binatang, qurban dapat diartikan sebagai persembahan (al ihdaa). Dari sisi waktu dapat diartikan penyembelihan (udlhiyyah) di waktu dhuha. Sedangkan dari sudut niat dan perbuatan dapat berarti pengorbanan (al juhd). Makna-makna di atas menunjukkan betapa luasnya pengertian qurban, meskipun qurban yang dimaksud di sini adalah sembelihan hari raya Idul Adha.

اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ

Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah). QS. Al Kautsar / 108 : 1-3

Dari sisi Tauhid, QS. Al Kautsar menunjukkan kemahamurahan Allah ﷻ membalas amal yang sedikit dengan pahala yang tidak terkira, yaitu berupa sungai di surga berupa telaga (al haudh) untuk Nabi Muhammad ﷺ dan ummat-nya, di mana balasan ibadah qurban menjadi salah satunya.

Dari sisi ibadah, surat ini meminta kita untuk bertauhid melalui dua bentuk ibadah yaitu shalat dan berkurban sebagai bentuk rasa syukur agar rezeki di dunia bertambah dan rezeki di akhirat yang akan menanti.

Dari sudut perjuangan, ibadah shalat dan qurban memang harus diperjuangkan melalui berbagai cara. Terlebih memperjuangkan dari musuh yang ada di dalam diri sendiri diantaranya adalah keengganan dan kekiran dalam shalat dan berqurban. Khususnya dalam ibadah qurban yang menuntut kita untuk benar-benar mempelajari ilmu ikhlas.

Sedangkan dari sudut syiar, dapat disimpulkan bahwa qurban merupakan amalan syiar yang memiliki begitu banyak manfaat. Pada rangkaian aktivitas berqurban, takbir dikumandangkan ke seluruh penjuru negeri ini, terdapat juga untaian doa yang selalu diperdengarkan. Dan yang terutama adalah, pembagian daging qurban yang diharapkan menjadi berkah untuk setiap penerimanya. Insyaa Allah.

Panduan Praktis Fiqh Qurban ( H. Syamsul Bahri ) dengan penyesuaian.

]]> https://laz-alhakim-sucofindo.org/tsaqofah/2019/08/10/perspektif-ibadah-qurban.html/feed 0
Memandang Bencana Dalam Perspektif Iman https://laz-alhakim-sucofindo.org/tsaqofah/2019/07/12/memandang-bencana-dalam-perspektif-iman.html https://laz-alhakim-sucofindo.org/tsaqofah/2019/07/12/memandang-bencana-dalam-perspektif-iman.html#respond Fri, 12 Jul 2019 09:59:03 +0000 http://laz-alhakim-sucofindo.org/?p=3149

Continue reading]]> Sesungguhnya saat ini banyak manusia yang menganggap bahwa musibah yang menimpa mereka baik dalam bidang perekonomian, keamanan, atau politik disebabkan karena faktor-faktor dunia semata.

Hal ini dapat terjadi dikarenakan kedangkalan pemahaman dan lemahnya iman, serta kelalaian mereka dari merenungi Al Qur’an dan sunnah Nabi. Sesungguhnya dibalik musibah ini terdapat faktor penyabab syar’i yang lebih besar dibandingkan faktor-faktor duniawi.

Allah berfirman dalam QS. Ar Rum/30:41 :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Selain itu, QS. Al A’raf ayat 155 menceritakan peristiwa gempa di Bukit Tursina, ketika Nabi Musa AS didampingi 70 orang pilihan, memohon ampunan untuk kaumnya yang menyembah sapi. Nabi Musa menyandarkan penyebab bencana pada faktor (ulah) manusia, yaitu perbuatan jahil sebagian pengikutnya.

Lalu sebenarnya, apakah penyebab bencana itu? Bencana sepenuhnya terjadi atas kuasa Allah. Dan pada QS. Al Hadid ayat 22 menyebutkan dua faktor penyebab bencana, yaitu : 1. Faktor Alam (fil-ardhi) dan 2. Faktor Manusia (fi-anfusikum).

Allah menciptakan alam dunia dengan hukum-hukum kealamannya (sunatullah) untuk menjaga keseimbangan ekosistem sehingga nyaman dihuni oleh makhluk ciptaan-Nya. Gempa bumi misalnya, adalah kerja harian bumi untuk menjaga eksistensinya. Di mana untuk meredam efek pergerakan bumi, Allah menciptakan gunung.

وَاَلْقٰى فِى الْاَرْضِ رَوَاسِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِكُمْ وَاَنْهٰرًا وَّسُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَۙ

“Dan Dia menancapkan gunung di bumi agar bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk (peta jalan)”. QS. An Nahl/16:15

Kemudian agar tidak memenuhi dan meledakkan perut bumi secara instan, maka energi panas bumi secara berkala dimuntahkan melalui erupsi gunung berapi. Letusan gunung api berfungsi antara lain meredam pemanasan global. Melalui efek kabut yang dihasilkan erupsi gunung berapi, suhu panas bumi akibat global warming diturunkan secara signifikan.

Kegagalan manusia dalam mengantisipasi sunatullah tersebut di atas, mengakibatkan terjadinya bencana, semisal gempa bumi sampai dengan meletusnya gunung berapi yang menimbulkan korban jiwa dan juga materil.

Berikutnya bencana yang diakibatkan oleh umat manusia. Dalam QS. An Nisa ayat ke-79, musibah dikatakan sebagai dampak dosa manusia.

مَآ اَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ۖ وَمَآ اَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّفْسِكَ ۗ وَاَرْسَلْنٰكَ لِلنَّاسِ رَسُوْلًا ۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا

Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi.

Dengan asbab kelakuan manusia inilah, musibah bencana menjadi ekspresi murka-Nya. Nabi Adam dan Siti Hawa pun dihukum Allah keluar dari surga hanya karena melakukan satu kali maksiat.

Secara logika pun misalnya, ketika manusia bersumbangsih dalam bencana banjir yang diakibatkan oleh penebangan hutan secara liar, wabah kemiskinan dan kelaparan di tengah-tengah kekayaan alam yang melimpah ruah akibat kekayaan tersebut diserahkan untuk dikelola pihak asing, merajalelanya kemaksiatan dan kriminalitas akibat hukum-hukum Allah yang tidak dihiraukan, mewabahnya penyakit kelamin semisal AIDS, maraknya LGBT, pergaulan bebas, dan lain-lain. Naudzubillah.

Oleh karenanya, kita sebagai makhluk yang kecil di hadapan-Nya, sudah semestinya lebih meningkatkan kadar keimanan dan ketakwaan dalam menyikapi terjadinya bencana. Perbanyak doa dan dzikir untuk memberikan ketenangan dalam diri, dan bertaubat atas segala kesalahan yang telah dilakukan.
Hasbunallah wani’mal wakiil” (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah sebaik-baik sandaran).

Wallahu a’lam.


]]> https://laz-alhakim-sucofindo.org/tsaqofah/2019/07/12/memandang-bencana-dalam-perspektif-iman.html/feed 0
Pentingnya ZISWAF Untuk Umat Islam https://laz-alhakim-sucofindo.org/fokus-zakat/2019/07/10/pentingnya-ziswaf-untuk-umat-islam.html https://laz-alhakim-sucofindo.org/fokus-zakat/2019/07/10/pentingnya-ziswaf-untuk-umat-islam.html#respond Wed, 10 Jul 2019 11:29:32 +0000 http://laz-alhakim-sucofindo.org/?p=3140

Continue reading]]> Apa sajakah manfaat dari ZISWAF yang merupakan kependekan dari Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf bagi kita selaku umat Islam?

Manfaat ke-1 : Manifestasi dari keimanan kepada Allah dan keyakinan akan kebenaran dari ajaran-Nya. (QS. At Taubah / 9 : 11)

فَاِنْ تَابُوْا وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ فَاِخْوَانُكُمْ فِى الدِّيْنِ ۗوَنُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ

Dan jika mereka bertobat, melaksanakan salat dan menunaikan zakat, maka (berarti mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.

Manfaat ke-2 : Manifestasi syukur akan nikmat, terutama nikmat harta benda. (QS. Ibrahim / 14 : 7)

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”

Manfaat ke-3 : Meminimalisir sifat kikir, materialistik, egoistik dan hanya mementingkan diri sendiri. Sifat bakhil adalah sifat yang tercela yang akan menjauhkan manusia dari rahmat Allah. (QS. An Nisa / 4 : 37)

ۨالَّذِيْنَ يَبْخَلُوْنَ وَيَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَيَكْتُمُوْنَ مَآ اٰتٰىهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۗ وَاَعْتَدْنَا لِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابًا مُّهِيْنًاۚ

(yaitu) orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia yang telah diberikan Allah kepadanya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir azab yang menghinakan.

Sebuah hadits menyatakan, Rasulullah SAW berkata : “Orang yang pemurah itu dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. Dan orang yang bakhil itu jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga, dan dekat dengan neraka. Orang yang jahil (bodoh) tapi pemurah, itu lebih dicintai Allah daripada ahli ibadah tapi bakhil.” (HR. Turmudzi)

Manfaat ke-4 : Membersihkan, mensucikan dan membuat ketenangan jiwa muzakki / orang yang berzakat. (QS. Al Ma’arij / 70 : 19-25)

اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًاۙ
اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًاۙ
وَّاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًاۙ
اِلَّا الْمُصَلِّيْنَۙ
الَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَاتِهِمْ دَاۤىِٕمُوْنَۖ
وَالَّذِيْنَ فِيْٓ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُوْمٌۖ
لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْمِۖ

Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir, kecuali orang-orang yang melaksanakan salat, mereka yang tetap setia melaksanakan salatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya disiapkan bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan yang tidak meminta,

Manfaat ke-5 : Harta yang dikeluarkan zakat dan infak/sedekahnya akan berkembang dan memberikan keberkahan kepada pemiliknya. Pintu rizki akan selalu dibuka oleh Allah SWT. (QS. Al Baqarah / 2 : 261)

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.

Manfaat ke-6 : Merupakan perwujudan kecintaan dan kasih sayang kepada sesam ummat manusia. Kecintaan muzakki akan menghilangkan rasa dengki dan iri hati dari kalangan mustahik. Rasulullah berwasiat, “Dengki itu bisa menghabiskan kebaikan, sebagaimana api membakar kayu; sedekah itu dapat menghapus kesalahan, sebagaimana air dapat memadamkan api; shalat itu adalah cahaya orang yang beriman, dan puasa adalah perisai dari siksa api neraka.” (HR. Ibnu Majah)

Manfaat ke-7 : Merupakan salah satu sumber dana pembangunan sarana dan prasarana yang harus dimiliki umat Islam, seperti sarana pendidikan, kesehatan, insitusi ekonomi, dan sebagainya.

Manfaat ke-8 : Memasyarakatkan etika bisnis yang benar, sebab zakat bukanlah membersihkan harta yang kotor, melainkan membersihkan harta yang didapat dengan cara yang bersih dan benar, dari harta orang lain. (Az Zariyat / 51 : 19)

وَفِيْٓ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْمِ

Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta.

Manfaat ke-9 : Dari sisi pembangunan kesejahteraan ummat, zakat merupakan salah satu instrumen pemerataan pendapatan, dengan zakat yang dikelola dengan baik, dimungkinkan membangun pertumbuhan ekonomi sekaligus pemerataan pendapatan, economic with equity.

Manfaat ke-10 : Sesungguhnya mendorong kaum muslimin untuk memiliki etos kerja dan usaha yang tinggi, sehingga memiliki harta kekayaan yang disamping dapat memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarganya juga bisa memberi kepada orang yang berhak menerimanya.

Disadur dari Buku Zakat Untuk Kesejahteraan Bersama karya Prof. KH Didin Hafidhuddin dengan penyesuaian seperlunya.

Wallahu a’lam.

]]> https://laz-alhakim-sucofindo.org/fokus-zakat/2019/07/10/pentingnya-ziswaf-untuk-umat-islam.html/feed 0
Tanda Gelapnya Hati https://laz-alhakim-sucofindo.org/tsaqofah/2019/05/08/tanda-gelapnya-hati.html https://laz-alhakim-sucofindo.org/tsaqofah/2019/05/08/tanda-gelapnya-hati.html#respond Wed, 08 May 2019 08:49:52 +0000 http://laz-alhakim-sucofindo.org/?p=3122

Continue reading]]> Keimanan tidak akan terlihat secara dhahiriah, namun akan terasa dan terdeteksi akan perilakunya. Iman yang kuat akan terlihat dengan ibadah seseorang kepada Allah lancar dan baik, serta hati pun akan berada dalam ketenangan dan kesehatan hati. Lain halnya dengan hati yang sakit, kepribadian akan terlihat buruk karena hati sedang tertutup oleh kemaksiatan, disitulah iman mulai terlihat sakit.

Turunnya iman atau hati yang sakit disebabkan oleh beberapa faktor sehingga perilaku yang ditampakkan pun akan tidak sesuai dengan prilaku ketika iman berada di atas. Iman yang turun berarti ia sedang berada melakukan kemaksiatan, baik maksiat hal kecil maupun kemaksiatan yang dianggap besar.

Di antara tanda-tanda hati yang sakit ialah:

1. Sulit meraih sesuatu yang diciptakan baginya
Misalnya, mengetahui Allah, mencintai-Nya, rindu ingin berjumpa dengan-Nya, berserah diri kepada-Nya, dan mengutamakan-Nya atas segala keinginan. Namun hati yang sakit, Ia lebih mengutamakan syahwatnya daripada taat dan cinta kepada Allah sebagaimana firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَال berfirman:

أَرَءَيۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيۡهِ وَكِيلًا ٤٣

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? ” (QS Al Furqan: 43).


Sebagian ulama salaf mengatakan, “Itulah hati yang apabila menginginkan sesuatu, ia menurutinya. Lalu, ia mengarungi hidup di dunia ini seperti seekor binatang yang tidak mengetahui Rabb-nya dan tidak menyembah-Nya dengan menaati perintah dan larangan-Nya. Sebagaimana terjemahan firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَال :

إِنَّ ٱللَّهَ يُدۡخِلُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يَتَمَتَّعُونَ وَيَأۡكُلُونَ كَمَا تَأۡكُلُ ٱلۡأَنۡعَٰمُ وَٱلنَّارُ مَثۡوٗى لَّهُمۡ ١٢

Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal saleh ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka ” (QS Muhammad: 12).

Besarnya pahala sesuai jenis amalnya. Ia tidak menjalani hidup seperti yang dicintai dan diridhai Allah. Akan tetapi, ia justru menjalani hidup untuk bermaksiat kepada Allah dengan fasilitas nikmat-Nya.

Saat di akhirat pun, ia tidak akan merasakan ketenangan. Ia tidak mati dan tidak pula hidup. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَال berfirman:

يَتَجَرَّعُهُۥ وَلَا يَكَادُ يُسِيغُهُۥ وَيَأۡتِيهِ ٱلۡمَوۡتُ مِن كُلِّ مَكَانٖ وَمَا هُوَ بِمَيِّتٖۖ وَمِن وَرَآئِهِۦ عَذَابٌ غَلِيظٞ ١٧

diminumnnya air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati, dan dihadapannya masih ada azab yang berat.” (QS Ibrahim: 17).

2. Tidak merasa sakit karena luka-luka maksiat
Sebagaimana sebuah ungkapan, “Orang mati tidak bisa merasakan sakit”. Hati yang sehat akan merasa sakit dan menderita karena maksiat. Sehingga, hal itu membersitkan keinginannya untuk bertaubat dan kembali kepada Allah.

Sebagaimana firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَال :
إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ إِذَا مَسَّهُمۡ طَٰٓئِفٞ مِّنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ تَذَكَّرُواْ فَإِذَا هُم مُّبۡصِرُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya “ (QS Al Araf: 201).

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَال juga berfirman ketika mensifati orang-orang yang bertakwa,

وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَٰحِشَةً أَوۡ ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ذَكَرُواْ ٱللَّهَ فَٱسۡتَغۡفَرُواْ لِذُنُوبِهِمۡ وَمَن يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمۡ يُصِرُّواْ عَلَىٰ مَا فَعَلُواْ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui ”  (QS Ali Imran: 135).

Maksudnya, mereka ingat akan keagungan Allah ta’alaa, ancaman-Nya, dan siksa-Nya. Sehingga, hal itu membersitkan keinginan mereka untuk bertaubat. Orang yang hatinya sakit akan selalu mengiringi kejelekan dengan kejelekan pula. Ketika al-Hasan menjelaskan firman Allah :

 كَلَّاۖ بَلۡۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka ”. Ia berkata, “Hal itu adalah dosa di atas dosa. Sehingga, hati menjadi buta. Adapun hati yang hidup, ia selalu mengiringi keburukan dengan kebaikan dan mengiringi perbuatan dosa dengan taubat.”

3. Pemiliknya tak merasa sakit dengan kebodohonnya terhadap kebenaran

Hati yang sehat akan merasa sakit dengan perkara-perkara syubhat yang menjangkitinya. Ia juga merasa sakit dengan kebodohannya terhadap kebenaran dan akidah-akidah yang batil. Oleh sebab itu, kebodohan merupakan musibah terbesar bagi orang yang hatinya hidup.

Sebagian ulama menuturkan, “Tidak ada dosa maksiat kepada Allah yang lebih jelek daripada kebodohan.” Dikatakan kepada Imam Sahl, “Wahai abu Muhammad, apakah yang lebih jelek dari kebodohan?” Jawabnya, “Bodoh terhadap kebodohan (maksudnya, orang bodoh yang tidak tahu kebodohannya).”

4. Pemiliknya beralih dari makanan-makanan bergizi kepada racun yang mematikan

Hal ini sebagaimana kebanyakan manusia yang berpaling dari mendengarkan al-Qur’an yang telah difirmankan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَال :

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارٗا

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian ”. ( QS Al Isra’ : 82).

Mereka mendengarkan nyanyian yang menumbuhkan kemunafikan dalam hati dan menggugah syahwat. Di dalamnya pula terkandung kekufuran kepada Allah ta’alaa. Seorang hamba akan lebih mengutamakan maksiat karena kecintaannya pada hal-hal yang dimurkai Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian, mengutamakan maksiat ialah buah dari penyakit hati dan hal itu kian memperparah penyakit dalam hatinya.

Selama hati sehat, ia akan cinta pada apa yang dicintai Allah dan apa yang dicintai Rasul-Nya. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَال berfirman:

وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ فِيكُمۡ رَسُولَ ٱللَّهِۚ لَوۡ يُطِيعُكُمۡ فِي كَثِيرٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡرِ لَعَنِتُّمۡ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ حَبَّبَ إِلَيۡكُمُ ٱلۡإِيمَٰنَ وَزَيَّنَهُۥ فِي قُلُوبِكُمۡ وَكَرَّهَ إِلَيۡكُمُ ٱلۡكُفۡرَ وَٱلۡفُسُوقَ وَٱلۡعِصۡيَانَۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلرَّٰشِدُونَ

Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah . Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu “cinta” kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus “. (QS Al Hujarat: 7).


Rasulullah   ﷺ  bersabda,

ذَاقَ طَعْمَ الإِيْماَنِ مَنْ رَضِيَ بِالله رَبًّا وِبِالإِسْلاَمِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا رَسُوْلاً

“Akan merasakan manisnya keimanan, orang yang rela Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Nabi.” (HR. Muslim).

Beliau  ﷺ  juga bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga aku lebih ia cintai daripada dirinya sendiri, anak, dan keluarganya serta manusia semuanya.” (HR. Al-Bukhari).

5. Pemiliknya menghuni dunia dengan perasaan ridha, tenang, dan tidak merasa asing, serta tidak mengharap akhirat dan tidak beramal untuknya.

Setiap kali hati pulih dari sakitnya, ia akan “pergi” ke akhirat. Sementara pemilik hati yang sakit, penampilan lahirnya akan berbeda dengan batinnya. Ia melihat apa yang mereka lakukan, tapi mereka tidak melihat apa yang ia lakukan. Pemilik hati yang sehat, akan merasa asing dengan kehidupan dunia yang penuh gemerlap. Kondisinya sebagaimana yang Rasulullah   ﷺ   dalam haditsnya, beliau bersabda,

كُنْ فِى الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
“ Jadilah engkau di dunia laksana orang asing, atau orang yang menyeberangi jalan.” (HR. Al-Bukhari).

Maka dari itu, agar hati kita tetap berada dalam kesehatan jasmani maupun rohani. Caranya kita harus menghindari prilaku yang tidak disukai Allah yaitu berupa kemaksiatan. Dan tetap menjaga keimanan agar tetap konstan atau naik, sehingga amal dan perbuatan semata-mata jauh dari kenistaan dan kegelapan hati.

Wallahu a’lam.

]]> https://laz-alhakim-sucofindo.org/tsaqofah/2019/05/08/tanda-gelapnya-hati.html/feed 0