Crowdfunding: Cara Baru Mendanai Mimpi Anda

Tidak jarang mimpi, ide, dan harapan kita tersandung oleh satu hal: pendanaan. Kini, dunia telah mengenal cara baru menggalang dana untuk merealisasikan mimpi yang dinamakan crowdfunding. Di era digital ini, dapat dibilang bahwa kita yang tersambung dengan Internet memiliki kesempatan yang tidak terbatas. Internet telah menciptakan berbagai ruang baru untuk berkarya, saling berbagi dan mencari penghasilan.

Lihat saja fenomena sosial media, online shopping, dan fenomena tumbuhnya startup yang terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Untuk memulai sesuatu, hampir setiap saat dibutuhkan aspek pendanaan.

Kita biasa mengidentikan pendanaan dengan melakukan pinjaman ke bank atau mencari investor yang ingin menanamkan modal untuk memulai sebuah bisnis.

Faktanya, tidak semua orang memiliki kemewahan untuk dapat mengakses dana dengan cara tersebut. Hari ini, ada sebuah metode bernama crowdfunding yang membuat mimpi kita sedikit lebih mudah untuk dicapai. Crowdfunding, atau penggalangan dana dari masyarakat, bukanlah hal yang asing bagi orang Indonesia.

Kita mengenalnya dengan sebutan lain: patungan, urunan, atau saweran. Istilah crowdfunding yang dikenal hari ini dipopulerkan oleh sebuah band asal Inggris bernama Marillion yang menggalang dana dari fans mereka secara daring untuk melakukan tur ke Amerika Serikat di tahun 1997.

Mereka sukses mendapatkan $60,000 dan sejak itu, bermunculan berbagai situs yang memfasilitasi penggalangan dana dari masyarakat luas, sebut saja Kickstarter, Indiegogo, dan GoFundMe.

Reputasi crowdfunding semakin melejit seiring dengan kesuksesan kampanye proyek-proyek yang berhasil menggalang dana spektakuler seperti Pebble Watch yang menggalang $10 juta dalam kurun waktu kurang dari 3 bulan. Ada empat jenis crowdfunding yang dikenal saat ini.

Yang pertama adalah donation-­based crowdfunding atau penggalanan dana tanpa imbalan apapun (donasi), biasa dilakukan untuk tujuan sosial atau kemanusiaan.

Kedua, ada reward-­based crowdfunding, atau proses penggalanan dana dimana pemberi dana mendapat sebuah imbalan hadiah dari pihak yang membutuhkan dana. Sebagai contoh, apabila Anda seorang musisi yang ingin membuat album, maka para pendukung (pemberi dana) dapat diberi imbalan berupa album musik Anda, merchandise, atau tiket menonton konser Anda.

Selain itu ada loan-­based dan equity-­based crowdfunding, yaitu crowdfunding yang bersifat pinjaman dan penanaman modal. Di Indonesia, baru umum crowdfunding berjenis donation-­based dan reward-­ based yang diwakili oleh situs seperti www.kitabisa.org dan www.qoloni.org.

Wujudkan, dan Ayopeduli. Semua mengemban misi yang sama, yaitu memudahkan kita untuk mengakses dana dari masyarakat luas yang tertarik atau ingin menjadi bagian dari mimpi, ide, dan harapan yang kita kampanyekan.

Apabila Anda soerang pengusaha, crowdfunding dapat menjadi sarana memvalidasi pasar untuk konsep produk atau jasa yang Anda tawarkan. Untuk penggiat sosial, crowdfunding dapat menjadi sumber dukungan untuk misi yang Anda perjuangkan. Apapun tujuannya, kunci kesuksesan dalam menggunakan metode crowdfunding ada dua.

Yang pertama adalah pengemasan. Karena Anda menggalang dana dari masyarakat, pastikan orang dapat dengan sudah mengerti apa tujuan yang Anda ingin capai dan tergerak untuk mendukung. Ini bisa dilakukan dengan pengemasan storytelling konten yang menarik dan visual.

Yang kedua adalah usaha Anda dalam berkampanye. Tidak sedikit orang yang salah mengartikan crowdfunding sebagai ‘cara instan’ mendapatkan dana dari masyarakat.

Pada akhirnya, usaha dari Anda lah yang menentukan sukses tidaknya kampanye Anda –crowdfunding hanya sebuah metode yang memberi kemudahan lebih, dan tugas kita adalah memaksimalkan potensi yang bisa didapat darinya.

Dengan nilai gotong-royong yang kita miliki sebagai bangsa Indonesia, crowdfunding dapat menjadi wadah penyaluran dan momentum untuk mendorong lebih banyak prestasi dan karya dari anak bangsa.

Cara baru untuk rakyat menentukan siapa yang layak didanai, tanpa bergantung dengan institusi besar. Jadi bagi kita yang sudah terhubung dengan koneksi Internet, masih patutkah kita merasa tidak berdaya untuk menggapai mimpi kita? (selasar)

(Visited 215 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.