Rasul SAW Marah kepada Orang Botak Ini

Akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Quran. Setiap tindak-tanduk Rasul adalah kemuliaan dan harus diteladani setiap Muslim. Rasulullah dikenal dengan kelembutan hati dan akhlaknya yang terpuji. Di setiap episode dakwahnya, beliau hadapi dengan kesabaran dan senyuman walau dihadang dengan berbagai siksaan dan hambatan.

Di balik keramahtamahan Rasulullah SAW, tentu beliau juga dapat mengeluarkan amarah. Amarah yang Rasul lakukan bukan dalam hal yang serampangan sebagaimana manusia pada umumnya. Beliau marah ketika ada syariat Allah yang diterjang, marah ketika darah kaum muslimin tertumpah. Jadi, kapankah Rasulullah SAW marah? Simak kisah berikut ini:

Abu Wail bercerita bahwa Abdullah bin Mas‘ud pernah berkata,

“Setelah Perang Hunain, Rasulullah lebih mengedepankan golongan tertentu dari masyarakat ketika pembagian harta rampasan. Beliau memberi Al-Aqra‘ bin Habis 100 unta dan memberi Uyainah seperti itu. Beliau juga mengistimewakan beberapa orang dari pembesar Arab. Mereka lebih diutamakan oleh Rasulullah dalam pembagian rampasan perang ini. Kemudian ada seorang lelaki mengatakan, ‘Demi Allah, sesungguhnya pembagian ini tidak adil dan tidak diniatkan tulus karena Allah!’

Aku lalu berkata, ‘Demi Allah, akan kukabarkan hal ini kepada Rasulullah SAW.’ Aku pun menemui beliau dan menceritakan apa yang telah dikatakan oleh lelaki tersebut. Mendengar hal itu, Rasulullah lantas berubah wajahnya hingga seperti celupan merah. Kemudian beliau bersabda, ‘Siapa lagi yang bisa adil kalau Allah dan Rasul-Nya sudah(dianggap) tidak adil?’ Beliau melanjutkan, ‘Semoga Allah merahmati Musa. Sungguh, ia telah disakiti lebih parah daripada ini dan ia tetap sabar.’Sudah pasti, aku tidak akan menceritakan hal semacam inikepada beliau lagi’.”(HR Al-Bukhari dan Muslim).

Imam Az-Zuhri menceritakan, Abu Salamah bin Abdurrahman bercerita kepadaku bahwa Said Al-Khudri pernah berkata,“Ketika kami bersama Rasulullah, beliau sedang membagikan sesuatu. Tiba-tiba datanglah Dzul Huwaishirah yang merupakan salah satu penduduk Bani Tamim. Ia lantas berkata, ‘Wahai Rasulullah, berlakulah yang adil!’ Beliau pun menjawab, ‘Celakalah engkau! Siapa lagi yang bias adil jika aku sudah (dianggap) tidak adil? Aku sungguh akan celaka danrugi jika telah berlaku tidak adil.’Umar pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, izinkan aku untukmemenggal lehernya!’ Beliau pun menjawab, ‘Biarkanlah, (sebab) ia punya kawan-kawanyang frekuensi shalat kalian saja masih kalah dengan frekuensi shalat mereka. Frekuensi puasa kalian juga masih kalah dengan frekuensi puasa mereka. Mereka rajin membaca Al-Qur’an, tapi tidak sampai ketenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya, dan besi panah itu tidak mengenai apapun. Dilihat ujung besinya, tidak ada bekas apa-apa. Dilihat gagangnya, tidak adaapa-apa. Dilihat bulu panahnya, juga tidak terdapat bekas apa-apa. Tidak ada bekas kotoran ataupun darah sama sekali di panah itu’.”

Abu Said  kemudian berkata, “Saksikanlah bahwa aku mendengar hadits ini dari Rasulullah. Aku juga bersaksi bahwa Ali bin Abi Thalib atelah memerangi mereka saat aku bersamanya.Ia lalu mencari laki-laki—yang menjadi ikon mereka tersebut—hingga ketika jasad orang itu didatangkan, aku memandangnya persis dengan ciri-ciri yang disampaikan oleh Nabi.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Di dalam riwayat lain yang tidak disebutkan nama lelaki tersebut, Imam Bukhari dan Muslim menceritakan; AbdurrahmanAbu Nu’m meriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri bahwa ia telah berkata, “Ali telah mengirim sebuah emas asli ketika ia masih berada di Yaman kepada Rasulullah. Rasulullah kemudian membaginya kepada empat orang, yaitu Al-Aqra’ bin Al-Habis Al-Handhali,‘Uyainah bin Badr Al-Fazari, dan ‘Alqamah bin ‘Ulatsah Al-‘Amiri.

Kemudian juga kepada salah seorang dari kabilah bani Kilab dan kepada Zaid Al-Khair Ath-Tha’i. Selain itu juga kepada salah seorang dari kabilah bani Nabhan. Lantas suku Quraisy pun marah dan mengatakan, ‘Bagaimana ia memberikannya kepada para pemuka Najed sementara kita tidak diberi?’

Rasulullah pun menjawab, ‘Sesungguhnya aku melakukan hal tersebut dalam rangka melunakkan hati mereka.’Tiba-tiba datanglah seorang lelaki dengan jenggot tebal, pipi menonjol, pandangan tajam, dagu berkerut, dan kepala botak. Ia lantas berkata, ‘Takutlah kepada Allah, wahai Muhammad!’ Rasulullah pun menyahut, ‘Siapa lagi yang akan taat kepada Allah jika aku sudah (kau anggap) menentang-Nya? Allah saja telah memercayaiku untuk mengatur penduduk bumi, lantas mengapa kalian tidak percaya kepadaku?’

Lelaki tersebut lalu menyingkir, dan salah seorang dari kaum meminta izin untuk membunuhnya. Kalau tidak salah yang minta izin adalah Khalid bin Walid. Rasulullah lalu bersabda,

‘Sesungguhnya dari keturunan orang (pembangkang) ini akan ada kaum yang giat membaca Al-Qur’an tapi bacaannya tidak sampai lebih dari tenggorokan mereka. Mereka rajin memerangi umat Islam, tapi membiarkan para penyembah berhala. Mereka meninggalkan Islam sebagaimana anak panah meninggalkan busurnya. Jikalau aku nanti bertemu dengan mereka, niscaya akan aku perangi mereka sebagaimana kaum Ad diperangi’.”

 

Disadur dari buku “Jangan Bikin Rasul Marah”

(Visited 105 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.