Memandang Bencana Dalam Perspektif Iman

Sesungguhnya saat ini banyak manusia yang menganggap bahwa musibah yang menimpa mereka baik dalam bidang perekonomian, keamanan, atau politik disebabkan karena faktor-faktor dunia semata.

Hal ini dapat terjadi dikarenakan kedangkalan pemahaman dan lemahnya iman, serta kelalaian mereka dari merenungi Al Qur’an dan sunnah Nabi. Sesungguhnya dibalik musibah ini terdapat faktor penyabab syar’i yang lebih besar dibandingkan faktor-faktor duniawi.

Allah berfirman dalam QS. Ar Rum/30:41 :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Selain itu, QS. Al A’raf ayat 155 menceritakan peristiwa gempa di Bukit Tursina, ketika Nabi Musa AS didampingi 70 orang pilihan, memohon ampunan untuk kaumnya yang menyembah sapi. Nabi Musa menyandarkan penyebab bencana pada faktor (ulah) manusia, yaitu perbuatan jahil sebagian pengikutnya.

Lalu sebenarnya, apakah penyebab bencana itu? Bencana sepenuhnya terjadi atas kuasa Allah. Dan pada QS. Al Hadid ayat 22 menyebutkan dua faktor penyebab bencana, yaitu : 1. Faktor Alam (fil-ardhi) dan 2. Faktor Manusia (fi-anfusikum).

Allah menciptakan alam dunia dengan hukum-hukum kealamannya (sunatullah) untuk menjaga keseimbangan ekosistem sehingga nyaman dihuni oleh makhluk ciptaan-Nya. Gempa bumi misalnya, adalah kerja harian bumi untuk menjaga eksistensinya. Di mana untuk meredam efek pergerakan bumi, Allah menciptakan gunung.

وَاَلْقٰى فِى الْاَرْضِ رَوَاسِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِكُمْ وَاَنْهٰرًا وَّسُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَۙ

“Dan Dia menancapkan gunung di bumi agar bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk (peta jalan)”. QS. An Nahl/16:15

Kemudian agar tidak memenuhi dan meledakkan perut bumi secara instan, maka energi panas bumi secara berkala dimuntahkan melalui erupsi gunung berapi. Letusan gunung api berfungsi antara lain meredam pemanasan global. Melalui efek kabut yang dihasilkan erupsi gunung berapi, suhu panas bumi akibat global warming diturunkan secara signifikan.

Kegagalan manusia dalam mengantisipasi sunatullah tersebut di atas, mengakibatkan terjadinya bencana, semisal gempa bumi sampai dengan meletusnya gunung berapi yang menimbulkan korban jiwa dan juga materil.

Berikutnya bencana yang diakibatkan oleh umat manusia. Dalam QS. An Nisa ayat ke-79, musibah dikatakan sebagai dampak dosa manusia.

مَآ اَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ۖ وَمَآ اَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّفْسِكَ ۗ وَاَرْسَلْنٰكَ لِلنَّاسِ رَسُوْلًا ۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا

Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi.

Dengan asbab kelakuan manusia inilah, musibah bencana menjadi ekspresi murka-Nya. Nabi Adam dan Siti Hawa pun dihukum Allah keluar dari surga hanya karena melakukan satu kali maksiat.

Secara logika pun misalnya, ketika manusia bersumbangsih dalam bencana banjir yang diakibatkan oleh penebangan hutan secara liar, wabah kemiskinan dan kelaparan di tengah-tengah kekayaan alam yang melimpah ruah akibat kekayaan tersebut diserahkan untuk dikelola pihak asing, merajalelanya kemaksiatan dan kriminalitas akibat hukum-hukum Allah yang tidak dihiraukan, mewabahnya penyakit kelamin semisal AIDS, maraknya LGBT, pergaulan bebas, dan lain-lain. Naudzubillah.

Oleh karenanya, kita sebagai makhluk yang kecil di hadapan-Nya, sudah semestinya lebih meningkatkan kadar keimanan dan ketakwaan dalam menyikapi terjadinya bencana. Perbanyak doa dan dzikir untuk memberikan ketenangan dalam diri, dan bertaubat atas segala kesalahan yang telah dilakukan.
Hasbunallah wani’mal wakiil” (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah sebaik-baik sandaran).

Wallahu a’lam.


(Visited 53 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.