Mungkin Ini Sebabnya Semakin Banyak Perempuan Menggugat Cerai

Mungkin Ini Sebabnya Semakin Banyak Perempuan Menggugat Cerai

Apapun namanya, entah organisasi, institusi, atau bahkan negara sekalipun, jika ada yang tak beres… Maka bukan rakyat duluan yang dipersalahkan, tapi pemimpin yang harus bersedia dievaluasi, dikoreksi, betul begitu?

Demikian juga dengan rumah tangga, ketika ada masalah, bahkan hingga mencapai gugat cerai, maka pemimpin rumah tangga terlebih dulu yang harus dievaluasi.

Sebelum Anda, wahai para suami, dievaluasi oleh Allah di akhirat kelak, cobalah untuk mengintrospeksi diri sendiri, apa yang menyebabkan istri berani menggugat cerai diri Anda?
Dan memang takkan ada asap tanpa api, kebanyakan gugat cerai istri terhadap suami terjadi karena faktor kesalahan suami, antara lain sebagai berikut:

1. Perselingkuhan
Berdasarkan data gugat cerai, 48% di antaranya terjadi karena faktor orang ketiga, yakni adanya perselingkuhan.

Duhai suami, berpikirlah waras… apa yang dimiliki wanita lain yang tak dimiliki istrimu? Ya, mungkin karena wanita lain dihiasi oleh syetan, sedangkan istrimu tidak.

Bagaimana bisa syetan menjerumuskanmu hingga jatuh berkubang dalam perselingkuhan yang hanya akan merobek kepercayaan pasangan dan menghancurkan rumah tanggamu? Bukankah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam telah berpesan:

“Sesungguhnya wanita datang dalam rupa setan, dan pergi dalam rupa setan. Jika seorang di antara kalian melihat seorang wanita yang menakjubkan (tanpa sengaja), maka hendaknya ia mendatangi (bersetubuh dengan) istrinya, karena hal itu akan menolak sesuatu (berupa syahwat) yang terdapat pada dirinya” (HR. Muslim no. 1403)

Sedangkan tabiat wanita adalah ingin dimengerti, disayangi, salahkah jika akhirnya istri memilih hidup sendiri daripada dikhianati?

Ingat juga bahwa dosa zina bisa membawa penyakit kelamin menular. Tegakah kau tularkan istrimu dengan dosa yang kau bawa dari hobi berselingkuh?

2. Tidak menafkahi istri dan anak

Duhai suami, tahukah apa yang membuatmu wajib ditaati oleh istri? Ya, karena kerelaanmu menafkahi keluarga.

Simaklah firman Allah mengenai kewajiban suami :
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa: 34)

Lantas jika karena kemalasanmu, keenggananmu, dan kesombonganmu, Engkau tak menafkahi anak istri, membiarkan istrimu banting tulang siang malam untuk menghidupi dirinya dan anak-anaknya, masih pantaskah kau menuntut untuk ditaati?

Ketahuilah bahwa istri merasa amat terhina jika suami tak bersedia menafkahi dirinya. Sedangkan untuk ke WC umum saja kau harus mengeluarkan sekian ribu Rupiah. Bahkan untuk sekali bermain dengan pelacur saja, seorang pria rela membayar sekian ratus ribu atau sekian juta Rupiah. Mengapa untuk menghalalkan hubungan intim dengan istrimu, yang dapat membawa kalian berdua ke surga, engkau tak malu mempusakainya tanpa menafkahinya? Alangkah hinanya dirimu… Alangkah sabarnya istrimu.

Kecuali bagi para suami yang diuji dengan cacat atau kekurangan fisik atau penyakit berat, janganlah beralasan sulit mendapat pekerjaan! Alasan basi yang membuat suami tampak seperti banci. Asalkan engkau mau berusaha, pekerjaan halal apapun lakukanlah demi memberi anak istri sesuap nasi.

Bahkan seringkali suami yang cacat sekalipun, ketika berniat menafkahi anak istri, maka Allah mampukan ia bekerja halal mencari nafkah hidup keluarganya. Maasya Allah.

Tak peduli apapun jabatan istrimu di kantornya, sebesar apapun gaji yang diperolehnya, suami tetap berkewajiban menafkahi istri dan anak. Jangan hinakan dirimu sendiri dengan mengemis makan dari tangan istrimu! Jika kau melakukannya, kau akan terhina dunia akhirat.

3. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)

Duhai suami, tidak ada seorang wanita pun yang kuat dipukuli, dimaki, dihina, bahkan sekadar
dimarahi sedikit saja wanita sudah baper dan melelehkan air mata. Lantas apa yang membuatmu tega membanting pecah belah di hadapannya?

Mu’awiyah Al-Qusyairiy bertanya kepada Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam: Ya Rasulullah apakah hak istri terhadap kami? Rasulullah menjawab:

“Memberinya makan jika kamu makan, memberinya pakaian jika kamu memakai pakaian, jangan memukul wajah, jangan menghinanya, dan jangan menjauhinya kecuali dalam rumah.” [Sunan Abu Daud: Sahih]

4. Kelainan seksual

Duhai suami, istri mana yang tahan melayani suami dengan kelainan seksual? Entah hiperseks, biseksual, homoseksual, atau kelainan lainnya yang membuat ilfil.

5. Salah memilih istri
Duhai suami, jika engkau merasa tak bersalah apa-apa selama berumah tangga: Kau nafkahi istrimu dengan baik, kau pergauli ia dengan santun, kau penuhi seluruh kewajibanmu dan hak-hak istri, namun istri tetap menggugat cerai terhadapmu. maka satu kesalahanmu adalah… tidak bisa memilih istri yang sholihah.

Jangan pandang wanita dari kecantikannya semata, karena kau akan menyesalinya! Lihatlah baik-baik akhlak seorang wanita sebelum kau menikahinya! Jika tidak, jangan heran jika setelah menikah kau justru dikhianati oleh pilihanmu sendiri.

Banyak yang masih perlu dikaji, mengapa istri berani menggugat cerai suami. Akan tetapi satu yang pasti, para suami perlu melakukan introspeksi dan evaluasi diri, sebelum Allah mengevaluasimu kelak di pengadilanNya. (ummionine)

(Visited 121 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.